Home / SUARA WI / 7 FAKTOR PENDUKUNG ETOS WIDYAISWARA || Oleh Dr. Prasetya Utama

7 FAKTOR PENDUKUNG ETOS WIDYAISWARA || Oleh Dr. Prasetya Utama

7 FAKTOR PENDUKUNG ETOS WIDYAISWARA

Oleh : Dr. Prasetya Utama

Pasal 1 ayat (2) Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 22 tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya menyebutkan bahwa "Widyaiswara adalah PNS yang jabatannya mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil (PNS)  dan melakukan evaluasi dan pengembangan Pendidikan dan Pelatihan  pada Lembaga Diklat Pemerintah".

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa, sebagai guru bangsa, widyaiswara memiliki peran sangat strategis dalam mendidik ASN agar memiliki karakter, kompetensi serta kualifikasi yang profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam pelatihan agar  berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka seorang widyaiswara (komunikator) harus  melakukan komunikasi  yang   efektif   dengan  peserta  pelatihan.  Efektif  disini  tentu  saja mengacu  pada  prinsip  komunikasi  yang  efektif  dimana  pesan  yang  diterima sama   dengan   pesan   yang   dikirim.   Prinsip   ini   penting   karena   seorang widyaiswara harus mampu menyampaikan materi secara tepat pada peserta pelatihan.

Menurut pakar komunikasi Unpad, Prof.Onong Uchjana Effendy, menyatakan bahwa kemampuan komunikator sangat dipengaruhi oleh etos dan sikap komunikator (widyaiswara) itu sendiri.

Etos komunikator adalah nilai diri seseorang yang merupakan sinergi antara kognisi (Cognition), afeksi (affection), dan konasi (conation). Kognisi adalah proses memahami dengan pikiran, afeksi adalah perasaan yang ditimbulkan akibat rangsangan (stimulus) dari luar dan konasi adalah aspek psikologis yang berkaitan dengan upaya atau perjuangan.

Jadi, informasi atau pesan yang disampaikan widyaswara (komunikator) kepada peserta pelatihan akan efektif bila terjadi proses psikologis yang sama antara widyaiswara dengan peserta pelatihan. Dengan kata lain, informasi atau pesan yang disampaikan widyaiswara kepada peserta pelatihan itu sefrekuensi (in tune). Situasi komunikatif seperti itu terjadi bila terdapat etos pada diri widyaiswara.

Etos tidak timbul pada diri seseorang dengan sendirinya, tetapi perlu proses, latihan dan pembelajaran, pengalaman dan jam terbang widyaiswara. Ada beberapa faktor yang mendukung terbentuknya etos seorang widyaiswara:

1.Kesiapan (Preparedness)

Seorang widyaiswara yang mengajar di kelas harus menunjukkan kesiapannya di depan peserta pelatihan, baik kesiapan mental/spiritual, fisik maupun materi yang akan disampaikan.

Kesiapan ini akan tampak pada sikap dan gaya penyampaiannya yang meyakinkan. Tampak oleh peserta pelatihan penguasaan materi yang disampaikan yang selalu up to date, media pembelajaran yang lebih bervariasi, bobot spiritual yang menyertai setiap ucapan dan penampilan fisik yang penuh semangat.

Termasuk dalam era revolusi industri 4,0 dan pandemi covid-19  mengharuskan widyaiswara untuk beradaptasi serta mencari terobosan agar pengembangan kompetensi dapat terus  tidak hanya berkutat dalam lingkup kelas ajar, melainkan harus menguasai dan mengembangkan kemampuan literasi digital, metode pembelajaran yang beyond limit, dengan mengubah mindset dan tata kelola untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Karena saat ini kita dihadapkan pada beragam generasi yang ada di dalam organisasi, mulai dari generasi baby boomers, generasi X, generasi Y, hingga sebagian besar generasi milenial yang banyak mendominasi ASN. Dewasa ini kita sudah mulai dengan pergeseran metode atau cara kita melatih yang tadinya klasikal dengan biaya tinggi serta memerlukan sarana dan prasarana yang kadang memberatkan, kemudian bergeser kepada e-learning atau pembelajaran jarak jauh yang akan memberikan kesempatan lebih besar kepada ASN kita dari Mataram sampai Bima untuk dapat menikmati pelatihan-pelatihan dengan mudah.

Ada pepatah bahasa Arab : “ faqiidusysyaii’ laa yu’thi “  artinya orang yang tak memiliki, tak akan bisa memberi. Atau sebuah pemeo yang selalu dijadikan pegangan para orator “qui ascendit sine labore descendit sine honore “ yang artinya, siapa yang naik tanpa kerja, turun tanpa kehormatan. Maknanya, siapa yang naik mimbar tanpa persiapan yang matang, akan turun secara tidak terhormat.

Peserta pelatihan yang heterogen baik dari segi belakang pendidikan, ASN zaman milenial, pengalaman, budaya dan sebagainya akan menimbulkan “wabah mental” yang kadang-kadang bersifat kritis dan tajam. Jika seorang peserta pelatihan ada yang berteriak agar widyaswara yang sedang menyampaikan pembelajaran kemudian tiba-tiba diinterupsi karena statement yang disampaikan dianggap “:nyeleneh” menurut mereka, besar kemungkinan teriakan tersebut akan diikuti yang lainnya secara serempak dan serentak oleh karena itu diperlukan persiapan dan perencanaan  yang matang sebelum widyaiswara tampil di depan kelas.

2.Kesungguhan (seriousness)

Seorang widyaiswara yang berbicara membahas sebuah topik dengan menunjukkan kesungguhan, akan menimbulkan kepercayaan kepada peserta pelatihan kepadanya. Kesungguhan akan terlihat dari sikap dan bobot kalimat yang diucapkan.

Keseriusan tidak selalu identik dengan kekakuan yang menyebabkan suasana pembelajaran menjadi kaku dan tegang. Banyak orator atau motivator yang berhasil menyisipkan humor dalam ceramahnya, tetapi dengan hati-hati mereka menghindarkan diri dari julukan sebagai pelawak.

Humor yang proporsional, relevan dan benar kadang kala akan menambah kedekatan widyaiswara dengan peserta pelatihan, sebaliknya humor yang berlebihan, tidak relevan dan mengada-ada akan menimbulkan kesan ketidakseriusan yang menyebabkan peserta pelatihan tidak simpati kepada widyaiswara.

3.Keikhlasan (sincerity)

Seorang widyaiswara harus ikhlas dalam niat dan perbuatannya, bahwa apa yang diniatkan dan dilakukan semata-mata mengharap karena ridha Allah. Dan ini harus terlihat dalam ucapan dan sikap. Sebab, kadang kala ada seorang widyaiswara secara tidak sengaja yang nyerempet-nyerempet menyinggung soal coin dan point meskipun itu dilakukan dengan bentuk humor. Sikap tidak ikhlas memunculkan kesan negatif pada pikiran peserta pelatihan yang pada akhirnya mereka menolak setiap pesan yang disampaikan.

4.Kepercayaan (confidence)

Seorang widyaiswara senantiasa harus memancarkan sikap percaya diri. Sikap ini harus selalu muncul dengan penguasaan diri dan situasi secara maksimal. Ia harus selamanya siap menghadapi segala situasi. Meskipun ia harus menunjukkan sikap rasa percaya diri, jangan sekali-kali bersikap sombong dan takabur. Salah satu kesalahan Dewey pada waktu kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat melawan Roosevelt adalah kesan bahwa, ia akan meraih kemenangan. Sikap takabur itulah akhirnya menyebabkan masyarakat lebih memilih Roosevelt. Intinya seorang widyaiswara harus berpenampilan “low profile high product ”.

Rasa percaya diri merupakan perpaduan antara sifat shiddiq (selalu benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (selalu menyampaikan/tidak menyembunyikan) dan fathonah (cerdas). Sifat-sifat inilah menjadi faktor kesuksesan dakwah Nabi Muhammad SAW.

5.Ketenangan (poise)

Peserta pelatihan akan menaruh kepercayaan kepada widyaiswara yang tenang dalam penampilan dan dalam menguraikan kata-kata. Ketenangan yang ditunjukkan seorang widyaiswara akan menimbulkan kesan bahwa, ia sudah berpengalaman dalam menghadapi peserta pelatihan dan menguasai persoalan yang akan dibicarakan. Lebih-lebih apabila ketenangan itu diperlihatkan pada saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit atau mendapat serangan gencar dari para peserta pelatihan.

Dan memang, jika widyaiswara bersikap tenang ia akan melakukan ideasi (ideation) dengan mantap, yakni pengorganisasian pikiran, perasaan dan hasil penginderaanya yang terpadu, sehingga yang terlontar adalah jawaban yang logis dan argumentatif.

6.Keramahan (friendship)

Keramahan seorang widyaiswara akan menimbulkan rasa simpati peserta pelatihan kepadanya. Keramahan tidak berarti kelemahan, tetapi pengekspresian sikap etis. Lebih-lebih jika widyaiswara muncul dalam forum perdebatan. Adakalanya dalam sebuah pembelajaran timbul tanggapan dari salah satu dari peserta pelatihan yang memberikan kritikan tajam. Dalam situasi seperti ini, sikap hormat widyaiswara dalam memberikan jawaban akan meluluhkan sikap emosional si pengeritik dan akan menimbulkan rasa simpati kepada widyaiswara.

7.Kesederhanaan (moderation)

Kesederhanaan tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat fisik, tetapi juga dalam hal penggunaan bahasa sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaan. Kesederhanaan seringkali menunjukkan keaslian dan kemurniaan sikap. Dalam kehidupan sehari-hari kadangkala kita jumpai seorang widyaiswara meniru orang lain dalam hal gaya bicara dan juga gaya hidup. Pengungkapan kata-kata asing yang terkesan ilmiah tanpa memberi tahu artinya tentu saja akan membingungkan peserta pelatihan. Begitu pula dalam penampilan fisik, misalnya dalam berpakaian sebagaimana layaknya artis yang hendak manggung tentu akan menimbulkan kesan bahwa seorang widyaiswara kurang sikap  kesederhanaannya yang dicontohkan kepada peserta pelatihan.

Selamat Hari Widyaiswara Nasional yang ke- XX dengan kebangkitan Widyaiswara Indonesia menuju transformasi profesi dan organisasi yang handal untuk ASN yang unggul Indonesia Maju.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Diadaptasi dari buku Dinamika Komunikasi (Prof. Drs. Onong U Effendy, MA)  

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *