Home / SUARA WI / ASN BERANEKA IKHTIARKAN NTB GEMILANG

ASN BERANEKA IKHTIARKAN NTB GEMILANG

ASN BERANEKA IKHTIARKAN NTB GEMILANG

Oleh :  Ratnah, S.Pd., MM – Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB

Sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara bahwa ASN harus memahami Nilai-nilai dasar sebagai ASN yang kemudian diharapkan Nilai-nilai dasar tersebut dapat terinternalisasi dan teraktualisasi bukan hanya ditempat tugas, namun juga dalam kehidupan sehari-harinya.

Nilai-nilai dasar ASN yang dimaksud mencakup 5 (lima) sikap, yakni Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Untuk memudahkan ingatan dan pemahaman, maka 5 (lima) sikap tersebut disingkat menjadi ANEKA. ANEKA inilah yang kemudian diikhtiarkan dapat dipahami, terinternalisasi, dan teraktualisasi oleh ASN di lingkup Pemerintah Provinsi NTB dalam ikhtiar mewujudkan NTB Gemilang.

1) Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban, artinya bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh ASN di lingkup Pemerintah Provinsi NTB harus dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat NTB. Indonesia adalah negara hukum. Setiap tindakan ASN harus berdasarkan Peraturan dan perudang-undangan yang berlaku, agar kokoh ia berpijak, agar aman ia bertindak.

Penulis teringat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Ditjen Dukcapil Kemdagri Bapak Prof. Dr. Zudan Fakhrulloh, SH, MH dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta beliau menyampaikan, “Jika penyelenggara negara ingin selamat, maka bersahabatlah dengan 2 (dua) hal, yang pertama aturan, dan yang kedua bukti”. Salam takzim untuk beliau, dan penulis sangat terinspirasi oleh pernyataan tersebut. Penulis ingin menutup penjelasan tentang Akuntabilitas ini dengan menyampaikan sebuah ilustrasi seorang ASN yang berusaha mematuhi aturan dengan masuk kantor lebih awal, namun ia lupa atau dengan sengaja tidak mengisi daftar hadir pegawai, maka kehadiran ASN tersebut pada hari itu jelas tidak dapat dipertanggung jawabkan.

2) Nasionalisme

Nasionalisme merupakan nilai Pancasila yang sesungguhnya sudah menjadi kepribadian bangsa Indonesia sejak lama. ASN harus memiliki rasa nasionalisme. Hal ini erat kaitannya dengan salah satu fungsi ASN yakni sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Untuk itu sangat tidak dibenarkan jika ada ASN yang ucapan dan tindakannya berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, apalagi secara sadar dan terbuka memprovokasi masyarakat untuk melakukan tindakan yang memicu konflik.

Dalam kondisi kekinian ditengah derasnya arus informasi dan teknologi, ASN harus lebih bijak menggunakan media sosialnya. Hoax dan ujaran kebencian harus mendapatkan verifikasi yang benar dan ketat utamanya dari ASN.

Dalam kaitan ini, penulis ingin mengulangi konsep dalam Al Qur’an yang pernah disampaikan oleh seorang Ulama’ besar di NTB yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur NTB 2 periode Bapak Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA  yang lebih akrab disapa TGB. Beliau menyampaikan dalam Al Qur’an surah Al Hujurat ayat 13 Alloh SWT berfirman :

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقٰىكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Beliau (TGB) menyampaikan manual operasional kita dalam ayat tersebut adalah “lita’arofu”. lita’arofu itu satu akar katanya dengan al ma’rifatu wal irfan yang artinya ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Selanjutnya beliau (TGB) menyampaikan, jika kita melihat dikota-kota atau dinegeri-negeri yang tegak berdiri peradaban islam, maka pasti dikota itu berdiri dengan tegak masjid yang bagus dan jamaahnya yang selalu penuh saf sholat berjamaahnya. Ada Sekolah-sekolah yang berkualitas, ada perpustakaan-perpustakaan yang lengkap, dan juga ada rumah sakit yang handal dan profesional.

Peradaban yang dimaksud bukan hanya dalam interaksi sosial, saling mengisi, dan silaturahmi, tapi juga semangat dalam mencari ilmu, semangat dalam mencari kebenaran. Maka dalam peradaban islam itu tidak ada tempat bagi fitnah, berita bohong atau hoax, atau ujaran-ujaran kebencian. Semuanya terverifikasi dengan baik dan ketat.

Para ilmuwan dengan khazanah keilmuan nya menduduki tempat-tempat yang mulia dalam peradaban islam, karna lita’arofu salah satu aspek nya adalah Al ma’rifatu wal irfan yakni kemuliaan dalam islam tak hanya dengan bersyahadat, tapi juga dengan mencari, dan mengisi hidup dengan ilmu yang bermanfaat.

Peradaban yang kemudian terbangun, dimana disitu ada pondasi ilmu yang kokoh, itulah yang menjadi langkah pertama untuk mencapai kemajuan pungkasnya. Salam takzim untuk beliau, dan semoga Alloh SWT memberikan kesehatan kepada beliau dan keluarga.

3) Etika Publik

Jika kita kroscek didalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, terdapat 4 (empat) frasa kata etika, yakni etika profesi, etika luhur, etika pemerintahan, dan etika agama. Keempat frasa etika tersebut sesungguhnya terbagi dalam 2 (dua) garis besar, yakni yang pertama bagaimana seorang ASN memiliki karakter moral, dan yang kedua bagaimana seorang ASN memiliki karakter kinerja. Karakter moral adalah iman, taqwa, akhlaq, jujur, rendah hati, santun, empati, sedangkan karakter kinerja adalah rajin, tekun, ulet, tangguh, tuntas. Tentu saja kita tidak ingin ASN dilingkup Pemprov NTB jujur tapi pemalas, atau sebaliknya rajin tapi curang / tidak jujur.

4) Komitmen Mutu

Banyak orang yang membandingkan pelayanan di swsta dengan di pemerintahan. Pelayanan di swasta cenderung lebih diunggulkan oleh publik daripada pelayanan di pemerintahan. Antrian panjang, ketidaknyamanan, sampai pada ketidakpastian turut mencedarai pelayanan di pemerintahan. Sungguh ironis memang, disaat masyarakat mengharapkan negara hadir melalui pelayanan di berbagai alat kelengkapan nya, namun disaat yang bersamaan masyarakat juga disuguhkan dengan pelayanan yang justru mengecewakan.

Salah satu fungsi ASN adalah sebagai pelayan publik / masyarakat. Fungsi ini jelas menegaskan mindset melayani, bukan dilayani. Kehadiran inovasi-inovasi dalam pelayanan begitu diharapkan. Tidak ada lagi proses yang berbelit-belit, menguras waktu, tenaga, dan pikiran.

Abad 21 adalah abad digital. Inovasi-inovasi pelayanan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi sudah mulai dimaksimalkan oleh penyelenggara negara. Sistem Computer Asisted Tes (CAT) yang digunakan dalam sistem rekrutmen PNS salah satu contohnya. Sistem ini telah terbukti dan teruji cepat, akurat, dan transparan. Peserta tes dapat melihat langsung hasil ujian mereka bahkan sebelum mereka keluar dari ruang ujian ketika peserta mengklik “selesai ujian”, maka skor atau nilai peserta akan otomatis tersaji di komputer peserta. Sistem ini juga membuka dan memberikan harapan kepada kita sebagai anak bangsa bahwa masih ada kejujuran di negeri ini. Penulis meyakini, peserta ujian akan ikhlas dan puas menerima hasilnya, karena sistem yang sangat jujur dan sportif.

ASN BERANEKA IKHTIARKAN NTB GEMILANG

Berikutnya penulis teringat dengan cerita seorang sahabat yang berprofesi sebagai guru komputer di salah satu sekolah swasta. Waktu itu sekolahnya masih belum tersedia komputer apalagi laboratorium komputer. Alhasil ia selalu mengajar komputer dengan memberikan catatan dan menjelaskan kepada Peserta didiknya tentang apa itu komputer dan bagaimana cara mengoperasikannya. Dalam pembelajaran tersebut seorang peserta didik bertanya kepada gurunya, “pak guru selalu bercerita tentang komputer, coba pak guru tunjukkan kepada kami mana komputernya”.

Kisah tersebut memberikan gambaran kepada kita betapa pelayanan kepada Peserta didik disekolah juga harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Benarlah yang disampaikan oleh seorang filsuf asal Cina Confocius pernah menyampaikan terkait teori pembelajaran, “anda dengar anda lupa, anda lihat anda paham, anda lakukan anda bisa”.

Sebagai seorang ASN yang berprofesi sebagai guru, hendaknya mampu memanfaatkan dan memaksimalkan media pembelajaran digital untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada Peserta didiknya. Ketika itu dilakukan, bukan hanya mampu menghadirkan proses pembelajaran yang bervariasi, menyenangkan, menantang, namun mampu juga memberikan pengalaman belajar yang kelak akan sangat bermanfaat bagi kehidupan peserta didik di masa yang akan datang.

Berbicara media pembelajaran digital, ada beberapa contoh yang bisa dimanfaatkan oleh guru, sebut saja Edmodo, Google Classroom, Quiper, Ruang guru, dan banyak lagi yang lainnya. Media pembelajaran adalah wahana atau alat bantu dalam pembelajaran. Ketika kita menguasai media pembelajaran tersebut, maka kita akan sangat terbantu, namun ketika kita tidak menguasainya, maka kita akan merasa terbebani dan cenderung merasa direpotkan.

Inovasi-inovasi, kreatifitas, dan profesionalitas sangat dibutuhkan dalam mewujudkan komitmen mutu kepada publik.

5) Anti Korupsi

Di awal-awal peradaban bangsa Cina membangun tembok besar Cina yang kokoh dan kuat. Tembok besar itu dibangun untuk melindungi negara dari serangan musuh, namun yang terjadi adalah tentara musuh menyogok penjaga pintu gerbang, dan musuhpun berhasil masuk dan melakukan serangan kedalam negeri mereka yang sudah terprotekai kuat oleh tembok besar itu. Ilustrasi tersebut memberikan gambaran sederhana kepada kita betapa sebuah negeri dengan mudah dihancurkan oleh perilaku korup penyelenggara negaranya.

Jika kita jabarkan nilai anti korupsi itu termasuk disiplin, tepat waktu dan tertib. Artinya ketika ada ASN yang sering kali terlambat masuk kantor, maka nilai dasar Anti korupsinya patut dipertanyakan.

Dalam konteks keislaman sesungguhnya nilai anti korupsi ini telah termanifesatasikan melalui ritual ibadah-ibadah yang ada didalamnya. Dalam ibadah sholat misalnya, waktu yang jelas dan tata cara yang tertib menjadi ciri khas ibadah ini. Saat berbincang-bincang dengan Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Lombok Utara Bapak H. Muhammad menceritakan betapa shalat berjamaah menjadi habituasi dilingkup OPD yang beliau pimpin. “Begitu adzan berkumandang, maka segala aktivitas dikantor yang saya pimpin harus menghentikan segala kegiatannya, meskipun kami masih numpang musholla” begitulah penuturan beliau. Beliau melanjutkan, dan aktivitas shalat berjamaah itu saya sendiri yang langsung komandoi. Beliau juga menyampaikan betapa pengaruh pimpinan sangat besar untuk mendisiplinkan ASN dilingkup OPD yang ia pimpin.

Sekilas Membedah Visi NTB Gemilang

Visi misi NTB Gemilang adalah refleksi dari Cita-cita Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghafur atau daerah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi hidup dan kehidupan.

Jika kita kaji dengan seksama untuk menuju visi NTB Gemilang, misi yang diikhtiarkan didominasi oleh percepatan-percepatan. Ya percepatan. Percepatan-percepatan untuk mewujudkan NTB Gemilang.

Ada 8 misi yang diikhtiarkan untuk mewujudkan NTB Gemilang. 8 misi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Percepatan perwujudan rehabilitas rekonstruksi pasca gempa, dengan konsep membangun yang transparan;
  2. Percepatan perwujudan masyarakat madani yang beriman dan berkarakter dengan prinsip dasar menghargai kemanusiaan, keberagaman dan kesetaraan gender yang proporsional;
  3. Percepat penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan memberi nilai tambah tinggi;
  4. Percepatan peningkatan daya saing manusia sebagai pondasi daya saing daerah yang lebih kompetitif;
  5. Percepatan transformasi birokrasi menjadi birokrasi yang bersih dan melayani;
  6. Menpercepat pengelolaan sumber daya dan lingkungan yang produktif dan berkelanjutan;
  7. Mempercepat pengembangan infrastruktur penopang sektor pariwisata, industri sektor unggulan serta kawasan strategis;
  8. Menegakkan hukum yang berkeadilan dan memantapkan stabilitas keamanan.

Penulis meyakini bahwa visi NTB Gemilang ini bukan visi yang biasa. Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023 yang akrab disapa Dr Zul dan Umi Rohmi ini ingin melakukan lompatan besar di era kepemimpinannya, bahkan bukan tidak mungkin akan melampaui lompatan-lompatan besar yang berhasil diraih oleh Pemimpin sebelumnya TGB – Badrul dengan kerja keras “Ikhtiarkan” 3A (Absano, Adono, Akino), Pijar (Sapi, Jagung, Rumput laut), Visit Lombok Sumbawa 2012, dan kemudian di periode kedua TGB – Amin dengan kerja “Lanjutkan Ikhtiar” yang tentu saja melanjutkan program kerja sebelumnya.

Lalu dimana posisi tawar ASN pada Visi NTB Gemilang tersebut? ASN dilingkup Pemerintah Provinsi NTB tidak akan mendapatkan posisi tawar jika menjadi ASN yang biasa-biasa saja yang mana datang dan pulang kantornya hanya sekedar rutinitas saja. ASN dilingkup Pemerintah Provinsi NTB akan mendapatkan posisi tawar yang baik, jika ASNnya BERANEKA. ASN dilingkup pemerintah provinsi NTB akan memiliki posisi tawar yang baik jika ASN tersebut mengaktulisasikan Nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi)

Tidak ada hal yang luar biasa bisa diraih dengan cara yang biasa. Lompatan besar juga harus diraih dengan cara yang besar juga. Harus ada pemikiran besar untuk berbuat dan melakukan hal yang besar. Provinsi NTB dengan segala potensinya telah berhasil menunjukkan eksistensinya di kancah nasional bahkan internasional. Berbagai prestasi telah diraih. Hadirnya Islamic Center Masjid Hubbul Wathan dijantung ibu kota provinsi merupakan pengokoh peradaban islam yang sudah sejak lama menjadi ciri khas provinsi ini dengan salah satu julukan pulau seribu masjid bagi salah satu pulau yang dimiliki nya.

 

Check Also

PEMBINAAN MENTAL MORAL ASN DALAM RANGKA MEWUJUDKAN GOOD AND CLEAN GOVERNANCE

  PEMBINAAN MENTAL MORAL ASN DALAM RANGKA MEWUJUDKAN GOOD AND CLEAN GOVERNANCE Oleh : Ratnah., …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *