Home / Admin : Winuantara (page 10)

Admin : Winuantara

Tri Budiprayitno memanggil Purna Widyaiswara aktif Kembali

Tri Budiprayitno memanggil Purna Widyaiswara aktif Kembali

[rainbow]Bpsdmd 2 Oktober 2019[/rainbow] Hari ini di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah digelar pertemuan dengan para purna Widyaiswara masa Badan Diklat Provinsi NTB, hadir Drs.H.Djaswad yang masa itu sebagai Koordinator Widyaiswara dan beberapa Widya iswara lainnya yang alhamdulillah mereka semua masih deiberikan kesehatan oleh Allah SWT.
Maksud dan tujuan bapak-bapak Purna Widyaiswara ini di minta hadir di BPSDMD Provinsi NTB oleh Tri Budiprayitno kali ini adalah untuk membantu Widyaiswara yang ada saat ini dalam pembimbingan (Coach) bagi peserta Diklatsar pola baru guna pembimbingan rancangan Aktualisasi yang akan berlansung untuk kegiatan Diklatsar, mengingat begitu banyaknya kegiatan BPSDMD yang harus tuntas pada tahun ini, di antaranya Diklatpim III Provinsi NTB, Diklatpim IV kabupaten Lombok Tengah, Diklatsar Kabupaten Lombok Utara,Kota Mataram, Kabupaten Bima, Diklatsar Kota Bima dan Orientasi DPRD kabupaten/Kota yang berlansung bersamaan kali ini.
sementara keberadaan 28 orang Widyaiswara BPSDMD aktif saat ini, setelah di distribusikaan ke masing- masing kelas yang ada ternyata tidak cukup dengan kegiatan yang sedang berlansung kali ini, mengingat tahun 2019 ini juga akan ada proses penerimaan Formasi CPNS baru sehingga Formasi yang sudah ada sebelumnya harus tuntas diahir tahun ini.
Tri Budiprayitno lebih jauh menyapaikan akan harapannya kepada purna Widyaiswara ini disamping membantu peserta dalam pembimbingannya juga diharapkan dapat menjawab pertanyaan pertanyaan peserta diklatsar yang kali ini kita anggap sebagai generasi Milinial yang kritis dan sama sama kita ketahuai juga yang dalam rekrutmennya menggunakan pola yang sangat obyektif dan menggunakan CAT katanya.
Koordintor Purna Widyaisawara (Drs.H.Djaswad ) atas nama rekan rekannya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar besarnya atas kepercayaan Kepala BPSDMD dan Koordinator Widyaiswara BPSDMD bapak (Dr. H. L. Sajim Sastrawan., SH., M.H.) untuk mengangkat Widyaiswara ULAMA kembali aktif dalam kegiatan kali ini katanya. Ulama menurut H.Djaswad adalah Singkatan dari Usia Lanjut Masih mau aktif yang sempat membuat gelak tawa di acara pertemuan tersebut.
Djaswad juga menyampaikan atas nama rekan rekan lainya akan berusaha memberikan yang terbaik dengan ilmu yang masih ada katanya.

Pembimbingan oleh Wi purna 👆

《AB》

 

BERBELANJA ILMU DENGAN METODE PEMBELAJARAN “WINDOW SHOPPING”

BERBELANJA ILMU DENGAN METODE PEMBELAJARAN “[blink]WINDOW SHOPPING[/blink]”.

Oleh : Haeli,. SE., M.Ak (Widyaisawara BPSDMD Prov. NTB)

 

Banyak jalan menuju Roma, pepatah tersebut menginsyaratkan bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Pun dalam sebuah proses pembelajaran beragam cara atau metode dapat digunakan untuk sampai ke tujuan pembelajaran. Kemampuan widyaiswara dalam mengelola kelas pada saat jam kritis merupakan titik kulminasi proses pembelajaran sukses. Jam kritis adalah jam rawan yang dicirikan dengan keadaan atau kondisi dimana peserta mulai terlihat jenuh, menguap dan  mengeluarkan senjata rahasianya (permen, minyak kayu putih, dan minyak penghangat lainnya). Mengelola kelas dengan beragam metode pengajaran yang menyenangkan dan mengasyikkan  merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang widyaiswara masa kini saat berhadapan dengan generasi milenial, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif, dinamis, dan menyenangkan. Moore (2005) berpendapat bahwa penerapan metode yang variatif akan membantu widyaiswara untuk mempertahankan perhatian peserta. Seperti sebuah vitamin setiap metode memiliki kekuatan dan tantangan dalam penerapan dan manfaatnya. Maka tuntutannya adalah widyaiswara  harus mampu untuk memilih secara cerdas dan strategis metode apa yang akan digunakan dalam mengelola kelas.

Memahami bahwa peserta pelatihan memiliki perbedaan gaya belajar maka sebuah tawaran menarik bagi seorang widyaiswara untuk mengelaborasi metode konvensional  atau yang sering diistlahkan sebagai CTM (Ceramah, Tanya jawab Melulu) dengan sebuah metode pembelajaran yang disebut Window Shopping.  Metode ini merupakan sebuah metode pembelajaran yang dapat diartikan sebagai kegiatan jalan-jalan di mall atau pusat pertokoan, dengan hanya melihat-lihat saja tanpa belanja sesuatu. Dalam metode ini peserta diarahkan untuk berjalan-jalan,  melihat-lihat atau menscanning hasil pekerjaan kelompok lain. Peserta yang berkunjung bukan berarti tidak mendapat apa-apa, peserta diarahkan untuk dapat menemukan sesuatu yang menarik saat berkunjung maka proses diskusi dilakukan dan peserta akan mendapat ilmu. Peserta tidak hanya melihat-lihat hasil pekerjaan kelompok lain tetapi juga mencatat hasil pekerjaan tersebut untuk saling berbagi dengan anggota kelompoknya persis seperti melakukan kegiatan berbelanja tepatnya Berbelanja Ilmu, sehingga setiap anggota yang berkunjung akan membawa ilmu untuk oleh-oleh anggota lainnya khususnya anggota yang bertugas sebagai “penjaga toko”.   

Model pembelajaan ini sangat menarik,  disamping adanya kerja kelompok juga terdapat kegiatan tutor sebaya (peer tutoring). Adapun langkah-langkah metode pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Seluruh Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian widyaiswara membagikan kasus atau bahasan yang berbeda kepada tiap-tiap kelompok.
  2. Secara berkelompok peserta mengerjakan tugas yang telah diberikan widyaiswara, hasil penyelesaian tugas ditulis dalam selembar kertas manila atau flip chart, dalam kegiatan ini widyaiswara memberikan bimbingan seperlunya.
  3. Hasil penyelesaian pekerjaan tiap kelompok kemudian dipajang di dinding kelas, kegiatan ini ibaratnya membuka gerai atau toko di mall.
  4. Untuk masing-masing kelompok dilakukan pembagian tugas, ada 2 atau 3 orang anggota kelompok yang mempunyai tugas sebagai penjaga toko dan yang lainnya berjalan-jalan untuk mengunjungi toko kelompok lain.
  5. Peserta yang bertugas sebagai penjaga toko diharapkan mampu memberi penjelasan kepada anggota kelompok lain yang berkunjung dan membutuhkan penjelasan terkait penyelesaian tugas yang dipajang. Untuk itu setiap kelompok dianjurkan memilih penjaga yang mampu berkomunikasi dengan baik dan memahami hasil pekerjaan kelompok. Pada kegiatan inilah munculnya aktifitas tutor sebaya (peer tutoring).
  6. Bagi anggota kelompok yang bertugas berkunjung pada kelompok lain berhak mendapat penjelasan, memberi masukkan dan melakukan koreksi terhadap pekerjaan kelompok yang dikunjunginya. Kelompok yang berkunjung mencatat pekerjaan kelompok yang dikunjungi. Dalam tahap ini biasanya widyaiswara dapaat memodifikasi dengan meminta pengunjung memberikan reward berupa tanda bintang sebagai ungkapan rasa terima kasih ketika penjelasan yang diberikan oleh para penjaga toko memuaskan.
  7. Setelah waktu yang telah ditentukan selesai, masing-masing anggota yang berkeliling diminta untuk kembali ke kelompok asal, dan anggota kelompok bertukar informasi berdasarkan hasil kunjungan yang telah dilakukan.
  8. Selanjutnya widyaiswara berkeliling untuk mengecek hasil pekerjaan dan melihat hal-hal yang  perlu diperbaiki dan memberikan komentar terhadap hasil pekerjaan tiap-tiap kelompok, melakukan konfirmasi berupa umpan balik dan koreksi terhadap pekerjaan tiap-tiap kelompok secara klasikal. Dan terakhir memberikan kuiz kepada peserta secara individu dengan soal atau bahasan yang tipenya sama dengan tugas yang telah dikerjakan oleh seluruh kelompok.

Penggunaan meotde ini sangat jelas memperlihatkan keaktifan seluruh peserta,  mereka mudah memahami tujuan pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dari cara peserta dalam menjelaskan hasil kerja kelompoknya kepada peserta lain yang bertanya. Kesabaran peserta yang bertugas menjaga “toko” juga diuji terhadap pertanyaan peserta lainnya yang memberikan pertanyaan dengan tujuan  menguji kemampuan penjaga. Silakan mencoba metode pembelajaran ini, sebagai bentuk varisasi dalam kegiatan pembelajaran. SEMOGA BERMANFAAT, SELAMAT MENCOBA !.**

 

Daftar Pustaka :

Lembaga Administrasi Negara (2011), Metode Pembelajaran.

Moore, Kenneth D (2005), Effective Instructional Strategies From Theory to Practice, Sage Publication, USA.

https://goeswarno.blogspot.com/2011/11/model-pembelaran-window-shopping.html

 

AKUNTABILITAS DALAM PROSES PEMBELAJARAN LATSAR CPNS KOTA MATARAM

AKUNTABILITAS DALAM PROSES PEMBELAJARAN LATSAR

CPNS KOTA MATARAM

Oleh: Kidi,S.Sos,.M.Pd

CPNS adalah Calon Pegawai Negeri Sipil yang merupakan bagian dari ASN, karena sesuai dengan Undang-undang Aparatur Negara pada pasal 1 ayat 4 yang menyatakan disamping ASN dimaksud Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang selanjutnya disingkat PPPK adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Kedua unsur ASN dimaksud juga mendapatkan hak yang sama untuk dapat melaksanakan tugas pemerintahan dimaksud dibutuhkan proses internalisasi yang tepat sehingga peserta lebih cepat memahami akuntabilitas sebagai salah satu modal dalam pelaksanaan tugas sehari-hari nantinya.

Proses pembelajaran metode E-Learning terasa sangat membantu penyampaian materi pada peserta. Hal ini sangat  terasa adanya gaerah peserta menjadi lebih terbangun sehingga proses pembelajaran menjdi lebih baik, terbukti peserta lebih aktif mendengarkan, memahami substansi-substansi dengan lebih mendalam dan terbukti  pada semangat yang ditunjukkan  pada pembahasanya dalam diskusi kelompok.

Pemateri Akuntabilitas dalam Vidio yang berdurasi 10 sampai 15 Menit yang merupakan sumber inspirasi peserta sekaligus sebagai media pembelajaran E-Learning oleh Widyaiswara adalah Widyaiswara Senior Drs. Awang Anwaruddin,M.Ed, sekaligus Master Trainer Puslatbang PK-ASN  Lembaga Adminsitrasi Negara. Dalam Diskusi tersebut didampingi oleh Widyaiswara Dr.H.Baban Sobandi,SE,. M,Si dan Dra.Enni Iriani, M.Ed. sebagai tim materi Akuntabilitas. Dalam Vidio tersebut mampu membahas isu-isu Akuntabilitas ASN secara umum sampai pada Akuntabilitas pejabat publik. Peserta Latsar kelas D Kota Mataram sangat antusias mengikutinya sehingga dalam diskusi kelompok mampu mengangkat isu-isu faktual di tempat tugas masing-masing yang dibawakan dengan Metode Roll Play. Dengan model tersebut tergambar sangat implementatif , sehingga diharapkan para peserta setelah menerima materi Akuntabilitas ini mampu membekali diri peserta dengan  nilai-nilai dasar  dan konsep akuntabilitas publik, konflik kepentingan dalam  masyarakat, netralitas PNS, keadilan dalam pelayanan publik, sikap perilaku yg konsisten.

Hal lain yang dapat kita ambil hikmahnya dari proses pembelajaran ini ketika ada hal-hal atau istilah yang kurang dipahami peserta, peserta dapat membrousing melalui pustaka media Internet yang sedang mereka aktifkan dan dapat dibahas bersama dalam kelompok.

Disamping penyajian dengan experiential learning, memberikan penekanan pada proses internalisasi nilai-nilai dasar,  metode ceramah interaktif, diskusi, studi kasus, simulasi, film pendek, sehinggatergambar keberhasilan peserta yang dinilai dari kemampuannya mengaktualisasikan dan mengekpresikannya dalam perilaku dan tindakan dalam tugasnya sehari-hari kelak.

Referensi:

  1. Buku Materi Akuntabilitas oleh Lembaga Adminstrasi Negara
  2. Vidio Puslatbang PK-ASN Lembaga Administrasi Negara
 

CPNS PENYANDANG DISABILITAS YANG SEMANGAT TURUT SERTA DALAM WORLD CLEAN UP DAY DI BPSDM NTB

CPNS PENYANDANG DISABILITAS
YANG SEMANGAT TURUT SERTA DALAM WORLD CLEAN UP DAY DI BPSDM NTB

 

Adalah Ni Komang Sutrasni yang merupakan 1 dari 230 orang peserta diklatsar yang merupakan penyandang disabilitas yang berhasil sendiri dalam mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018.


Ni Komang Sutrasni saat ini sedang mengikuti Diklat Dasar CPNS, dia adalah perencana Ahli pertama pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Utara yang hari ini bersama Karyawan karyawati BPSDMD Provinsi NTB serta temen-temen Peserta Diklatsar lainnya antusias dalam gerakan World Clean Up Day di Lingkungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah.
World Clean Up Day merupankan hari dimana aksi bersih-bersih terbesar di Dunia yang diikuti 257 Negara dan 13.000.000 Relawan Indonesia.
Aksi ini diharapkan akan sejalan dengan Program Zero Waste atau bebas sampah di Provinsi NTB.


Hari ini peserta Diklat di ajak oleh Kepala BPSDMD agar lewat Peserta diklatsar turut serta dan berperan aktif mengkampayekan kepada Masyarakat intuk mewujudkan NTB bebas sampah 2023 atau lebih dikenal dengan Zero Waste, yang saat ini sedang disusun Perda tentang Pengelolaan Sampah. Perda ini sudah masuk Program Legislasi Daerah (Prolegda) di DPRD NTB. Dalam Perda ini, nantinya peran Provinsi dan kabupaten/kota akan diatur secara jelas. Ayo NTB bebas Sampah

(AB).21.9.19

 

ASN BERANEKA IKHTIARKAN NTB GEMILANG

ASN BERANEKA IKHTIARKAN NTB GEMILANG

Oleh :  Ratnah, S.Pd., MM – Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB

Sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara bahwa ASN harus memahami Nilai-nilai dasar sebagai ASN yang kemudian diharapkan Nilai-nilai dasar tersebut dapat terinternalisasi dan teraktualisasi bukan hanya ditempat tugas, namun juga dalam kehidupan sehari-harinya.

Nilai-nilai dasar ASN yang dimaksud mencakup 5 (lima) sikap, yakni Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Untuk memudahkan ingatan dan pemahaman, maka 5 (lima) sikap tersebut disingkat menjadi ANEKA. ANEKA inilah yang kemudian diikhtiarkan dapat dipahami, terinternalisasi, dan teraktualisasi oleh ASN di lingkup Pemerintah Provinsi NTB dalam ikhtiar mewujudkan NTB Gemilang.

1) Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban, artinya bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh ASN di lingkup Pemerintah Provinsi NTB harus dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat NTB. Indonesia adalah negara hukum. Setiap tindakan ASN harus berdasarkan Peraturan dan perudang-undangan yang berlaku, agar kokoh ia berpijak, agar aman ia bertindak.

Penulis teringat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Ditjen Dukcapil Kemdagri Bapak Prof. Dr. Zudan Fakhrulloh, SH, MH dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta beliau menyampaikan, “Jika penyelenggara negara ingin selamat, maka bersahabatlah dengan 2 (dua) hal, yang pertama aturan, dan yang kedua bukti”. Salam takzim untuk beliau, dan penulis sangat terinspirasi oleh pernyataan tersebut. Penulis ingin menutup penjelasan tentang Akuntabilitas ini dengan menyampaikan sebuah ilustrasi seorang ASN yang berusaha mematuhi aturan dengan masuk kantor lebih awal, namun ia lupa atau dengan sengaja tidak mengisi daftar hadir pegawai, maka kehadiran ASN tersebut pada hari itu jelas tidak dapat dipertanggung jawabkan.

2) Nasionalisme

Nasionalisme merupakan nilai Pancasila yang sesungguhnya sudah menjadi kepribadian bangsa Indonesia sejak lama. ASN harus memiliki rasa nasionalisme. Hal ini erat kaitannya dengan salah satu fungsi ASN yakni sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Untuk itu sangat tidak dibenarkan jika ada ASN yang ucapan dan tindakannya berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, apalagi secara sadar dan terbuka memprovokasi masyarakat untuk melakukan tindakan yang memicu konflik.

Dalam kondisi kekinian ditengah derasnya arus informasi dan teknologi, ASN harus lebih bijak menggunakan media sosialnya. Hoax dan ujaran kebencian harus mendapatkan verifikasi yang benar dan ketat utamanya dari ASN.

Dalam kaitan ini, penulis ingin mengulangi konsep dalam Al Qur’an yang pernah disampaikan oleh seorang Ulama’ besar di NTB yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur NTB 2 periode Bapak Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA  yang lebih akrab disapa TGB. Beliau menyampaikan dalam Al Qur’an surah Al Hujurat ayat 13 Alloh SWT berfirman :

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقٰىكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Beliau (TGB) menyampaikan manual operasional kita dalam ayat tersebut adalah “lita’arofu”. lita’arofu itu satu akar katanya dengan al ma’rifatu wal irfan yang artinya ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Selanjutnya beliau (TGB) menyampaikan, jika kita melihat dikota-kota atau dinegeri-negeri yang tegak berdiri peradaban islam, maka pasti dikota itu berdiri dengan tegak masjid yang bagus dan jamaahnya yang selalu penuh saf sholat berjamaahnya. Ada Sekolah-sekolah yang berkualitas, ada perpustakaan-perpustakaan yang lengkap, dan juga ada rumah sakit yang handal dan profesional.

Peradaban yang dimaksud bukan hanya dalam interaksi sosial, saling mengisi, dan silaturahmi, tapi juga semangat dalam mencari ilmu, semangat dalam mencari kebenaran. Maka dalam peradaban islam itu tidak ada tempat bagi fitnah, berita bohong atau hoax, atau ujaran-ujaran kebencian. Semuanya terverifikasi dengan baik dan ketat.

Para ilmuwan dengan khazanah keilmuan nya menduduki tempat-tempat yang mulia dalam peradaban islam, karna lita’arofu salah satu aspek nya adalah Al ma’rifatu wal irfan yakni kemuliaan dalam islam tak hanya dengan bersyahadat, tapi juga dengan mencari, dan mengisi hidup dengan ilmu yang bermanfaat.

Peradaban yang kemudian terbangun, dimana disitu ada pondasi ilmu yang kokoh, itulah yang menjadi langkah pertama untuk mencapai kemajuan pungkasnya. Salam takzim untuk beliau, dan semoga Alloh SWT memberikan kesehatan kepada beliau dan keluarga.

3) Etika Publik

Jika kita kroscek didalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, terdapat 4 (empat) frasa kata etika, yakni etika profesi, etika luhur, etika pemerintahan, dan etika agama. Keempat frasa etika tersebut sesungguhnya terbagi dalam 2 (dua) garis besar, yakni yang pertama bagaimana seorang ASN memiliki karakter moral, dan yang kedua bagaimana seorang ASN memiliki karakter kinerja. Karakter moral adalah iman, taqwa, akhlaq, jujur, rendah hati, santun, empati, sedangkan karakter kinerja adalah rajin, tekun, ulet, tangguh, tuntas. Tentu saja kita tidak ingin ASN dilingkup Pemprov NTB jujur tapi pemalas, atau sebaliknya rajin tapi curang / tidak jujur.

4) Komitmen Mutu

Banyak orang yang membandingkan pelayanan di swsta dengan di pemerintahan. Pelayanan di swasta cenderung lebih diunggulkan oleh publik daripada pelayanan di pemerintahan. Antrian panjang, ketidaknyamanan, sampai pada ketidakpastian turut mencedarai pelayanan di pemerintahan. Sungguh ironis memang, disaat masyarakat mengharapkan negara hadir melalui pelayanan di berbagai alat kelengkapan nya, namun disaat yang bersamaan masyarakat juga disuguhkan dengan pelayanan yang justru mengecewakan.

Salah satu fungsi ASN adalah sebagai pelayan publik / masyarakat. Fungsi ini jelas menegaskan mindset melayani, bukan dilayani. Kehadiran inovasi-inovasi dalam pelayanan begitu diharapkan. Tidak ada lagi proses yang berbelit-belit, menguras waktu, tenaga, dan pikiran.

Abad 21 adalah abad digital. Inovasi-inovasi pelayanan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi sudah mulai dimaksimalkan oleh penyelenggara negara. Sistem Computer Asisted Tes (CAT) yang digunakan dalam sistem rekrutmen PNS salah satu contohnya. Sistem ini telah terbukti dan teruji cepat, akurat, dan transparan. Peserta tes dapat melihat langsung hasil ujian mereka bahkan sebelum mereka keluar dari ruang ujian ketika peserta mengklik “selesai ujian”, maka skor atau nilai peserta akan otomatis tersaji di komputer peserta. Sistem ini juga membuka dan memberikan harapan kepada kita sebagai anak bangsa bahwa masih ada kejujuran di negeri ini. Penulis meyakini, peserta ujian akan ikhlas dan puas menerima hasilnya, karena sistem yang sangat jujur dan sportif.

ASN BERANEKA IKHTIARKAN NTB GEMILANG

Berikutnya penulis teringat dengan cerita seorang sahabat yang berprofesi sebagai guru komputer di salah satu sekolah swasta. Waktu itu sekolahnya masih belum tersedia komputer apalagi laboratorium komputer. Alhasil ia selalu mengajar komputer dengan memberikan catatan dan menjelaskan kepada Peserta didiknya tentang apa itu komputer dan bagaimana cara mengoperasikannya. Dalam pembelajaran tersebut seorang peserta didik bertanya kepada gurunya, “pak guru selalu bercerita tentang komputer, coba pak guru tunjukkan kepada kami mana komputernya”.

Kisah tersebut memberikan gambaran kepada kita betapa pelayanan kepada Peserta didik disekolah juga harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Benarlah yang disampaikan oleh seorang filsuf asal Cina Confocius pernah menyampaikan terkait teori pembelajaran, “anda dengar anda lupa, anda lihat anda paham, anda lakukan anda bisa”.

Sebagai seorang ASN yang berprofesi sebagai guru, hendaknya mampu memanfaatkan dan memaksimalkan media pembelajaran digital untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada Peserta didiknya. Ketika itu dilakukan, bukan hanya mampu menghadirkan proses pembelajaran yang bervariasi, menyenangkan, menantang, namun mampu juga memberikan pengalaman belajar yang kelak akan sangat bermanfaat bagi kehidupan peserta didik di masa yang akan datang.

Berbicara media pembelajaran digital, ada beberapa contoh yang bisa dimanfaatkan oleh guru, sebut saja Edmodo, Google Classroom, Quiper, Ruang guru, dan banyak lagi yang lainnya. Media pembelajaran adalah wahana atau alat bantu dalam pembelajaran. Ketika kita menguasai media pembelajaran tersebut, maka kita akan sangat terbantu, namun ketika kita tidak menguasainya, maka kita akan merasa terbebani dan cenderung merasa direpotkan.

Inovasi-inovasi, kreatifitas, dan profesionalitas sangat dibutuhkan dalam mewujudkan komitmen mutu kepada publik.

5) Anti Korupsi

Di awal-awal peradaban bangsa Cina membangun tembok besar Cina yang kokoh dan kuat. Tembok besar itu dibangun untuk melindungi negara dari serangan musuh, namun yang terjadi adalah tentara musuh menyogok penjaga pintu gerbang, dan musuhpun berhasil masuk dan melakukan serangan kedalam negeri mereka yang sudah terprotekai kuat oleh tembok besar itu. Ilustrasi tersebut memberikan gambaran sederhana kepada kita betapa sebuah negeri dengan mudah dihancurkan oleh perilaku korup penyelenggara negaranya.

Jika kita jabarkan nilai anti korupsi itu termasuk disiplin, tepat waktu dan tertib. Artinya ketika ada ASN yang sering kali terlambat masuk kantor, maka nilai dasar Anti korupsinya patut dipertanyakan.

Dalam konteks keislaman sesungguhnya nilai anti korupsi ini telah termanifesatasikan melalui ritual ibadah-ibadah yang ada didalamnya. Dalam ibadah sholat misalnya, waktu yang jelas dan tata cara yang tertib menjadi ciri khas ibadah ini. Saat berbincang-bincang dengan Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Lombok Utara Bapak H. Muhammad menceritakan betapa shalat berjamaah menjadi habituasi dilingkup OPD yang beliau pimpin. “Begitu adzan berkumandang, maka segala aktivitas dikantor yang saya pimpin harus menghentikan segala kegiatannya, meskipun kami masih numpang musholla” begitulah penuturan beliau. Beliau melanjutkan, dan aktivitas shalat berjamaah itu saya sendiri yang langsung komandoi. Beliau juga menyampaikan betapa pengaruh pimpinan sangat besar untuk mendisiplinkan ASN dilingkup OPD yang ia pimpin.

Sekilas Membedah Visi NTB Gemilang

Visi misi NTB Gemilang adalah refleksi dari Cita-cita Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghafur atau daerah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi hidup dan kehidupan.

Jika kita kaji dengan seksama untuk menuju visi NTB Gemilang, misi yang diikhtiarkan didominasi oleh percepatan-percepatan. Ya percepatan. Percepatan-percepatan untuk mewujudkan NTB Gemilang.

Ada 8 misi yang diikhtiarkan untuk mewujudkan NTB Gemilang. 8 misi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Percepatan perwujudan rehabilitas rekonstruksi pasca gempa, dengan konsep membangun yang transparan;
  2. Percepatan perwujudan masyarakat madani yang beriman dan berkarakter dengan prinsip dasar menghargai kemanusiaan, keberagaman dan kesetaraan gender yang proporsional;
  3. Percepat penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan memberi nilai tambah tinggi;
  4. Percepatan peningkatan daya saing manusia sebagai pondasi daya saing daerah yang lebih kompetitif;
  5. Percepatan transformasi birokrasi menjadi birokrasi yang bersih dan melayani;
  6. Menpercepat pengelolaan sumber daya dan lingkungan yang produktif dan berkelanjutan;
  7. Mempercepat pengembangan infrastruktur penopang sektor pariwisata, industri sektor unggulan serta kawasan strategis;
  8. Menegakkan hukum yang berkeadilan dan memantapkan stabilitas keamanan.

Penulis meyakini bahwa visi NTB Gemilang ini bukan visi yang biasa. Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023 yang akrab disapa Dr Zul dan Umi Rohmi ini ingin melakukan lompatan besar di era kepemimpinannya, bahkan bukan tidak mungkin akan melampaui lompatan-lompatan besar yang berhasil diraih oleh Pemimpin sebelumnya TGB – Badrul dengan kerja keras “Ikhtiarkan” 3A (Absano, Adono, Akino), Pijar (Sapi, Jagung, Rumput laut), Visit Lombok Sumbawa 2012, dan kemudian di periode kedua TGB – Amin dengan kerja “Lanjutkan Ikhtiar” yang tentu saja melanjutkan program kerja sebelumnya.

Lalu dimana posisi tawar ASN pada Visi NTB Gemilang tersebut? ASN dilingkup Pemerintah Provinsi NTB tidak akan mendapatkan posisi tawar jika menjadi ASN yang biasa-biasa saja yang mana datang dan pulang kantornya hanya sekedar rutinitas saja. ASN dilingkup Pemerintah Provinsi NTB akan mendapatkan posisi tawar yang baik, jika ASNnya BERANEKA. ASN dilingkup pemerintah provinsi NTB akan memiliki posisi tawar yang baik jika ASN tersebut mengaktulisasikan Nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi)

Tidak ada hal yang luar biasa bisa diraih dengan cara yang biasa. Lompatan besar juga harus diraih dengan cara yang besar juga. Harus ada pemikiran besar untuk berbuat dan melakukan hal yang besar. Provinsi NTB dengan segala potensinya telah berhasil menunjukkan eksistensinya di kancah nasional bahkan internasional. Berbagai prestasi telah diraih. Hadirnya Islamic Center Masjid Hubbul Wathan dijantung ibu kota provinsi merupakan pengokoh peradaban islam yang sudah sejak lama menjadi ciri khas provinsi ini dengan salah satu julukan pulau seribu masjid bagi salah satu pulau yang dimiliki nya.

 

DETEKSI DINI TINDAKAN KORUP PEJABAT PUBLIK

DETEKSI DINI TINDAKAN KORUP PEJABAT PUBLIK

Oleh : Haeli., SE., M.Ak

Undang-undang No. 28 tahun 1999 tentang tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme melahirkan suatu kewajiban bagi pejabat negara untuk melaporkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya. Mengapa seorang Pejabat Negara atau Pejabat Publik harus melaporkan harta kekayaannya? untuk menjawab pertanyaan ini, sejenak menengok jauh ke belakang yaitu pada tahun 634-644 M pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau mewajibkan para gubernur untuk mencatat dan melaporkan kekayaannya mulai saat mengangkat sumpah janji hingga diakhir masa jabatannya agar dapat diketahui pertambahan kekayaan yang bersangkutan, apakah berasal dari sumber yang sah atau dari sumber yang terdapat adanya potensi conflict of interest.

Harta kekayaan yang dilaporkan setidaknya akan menyediakan informasi mengenai kekayaan pejabat publik yang diperoleh dari seluruh aktivitas yang memberikan dampak secara langsung terhadap penerimaan dan pengeluaran pejabat publik. Kewajiban melaporkan kekayaan diyakini penting oleh banyak negara sebagai media meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pejabat dan lembaga publik, serta untuk mendukung tercapainya tujuan pemberantasan korupsi yang efektif. Mekanisme pelaporan kekayaan adalah media yang memungkinkan pengawasan kejujuran, integritas, dan deteksi kemungkinan adanya tindakan memperkaya diri secara ilegal oleh pejabat publik.

Jelas kewajiban lapor kekayaan diarahkan kepada para pejabat publik, baik yang merupakan pejabat negara yang dipilih (elected officials) maupun mereka yang menempuh karir dalam sistem birokrasi. Lantaran yang dibidik bukan hanya jabatan atau orang-orang yang mengisinya, melainkan juga kepentingan yang tercakup di dalamnya, kecenderungan untuk mengabaikan, membangkang, atau mengakali mekanisme pelaporan kekayaan, terus menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh lembaga yang diserahi tugas mengelolanya. Meski di lain sisi, kesadaran pejabat publik untuk mematuhinya juga mulai menguat dari waktu ke waktu.

Pelaporan harta kekayaan memiliki peran ganda dari sisi pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi,  diantaranya untuk memastikan integritas para pengisi jabatan publik, menimbulkan rasa takut untuk berbuat korupsi, menanamkan sifat kejujuran, keterbukaan, dan tanggungjawab (karakter etis), mendeteksi potensi konflik kepentingan antara tugas-tugas publik dengan kepentingan pribadinya, meningkatkan kontrol masyarakat, serta menyediakan bukti awal dan/atau bukti pendukung bagi penyidikan dan penuntutan perkara korupsi.

Pelaporan harta kekayaan tidak hanya berfungsi dalam pencegahan dan penindakan, namun juga dapat dimanfaatkan oleh publik sebagai salah satu mekanisme untuk menilai kejujuran dan integritas Pejabat Publik, dibagian lain akan meningkatkan transparansi dan kepercayaan masyarakat dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan, karena pelaporan harta kekayaan dapat memberikan sinyal bahwa potensi korupsi oleh pejabat publik dapat diawasi sejak dini.

Refrensi : https://acch.kpk.go.id/id/artikel/fokus/lhkpn-transparansi-pemimpin-negeri

 

RIVALITAS BISNIS MINIMARKET DENGAN KIOS TRADISIONAL

ILUSTRASI: Google Image

 

RIVALITAS BISNIS MINIMARKET DENGAN KIOS TRADISIONAL

Oleh : Haeli, SE., M.Ak

Selamat datang di ***mart, Selamat berbelanja..Salam, senyum dan sapa nan ramah para pejangga berulang-ulang terdengar sedetik setelah pintu gerai terbuka, udara sejuk menerpa, tatanan barang-barang yang memanjakan,  harga setiap produk jelas terpampang merupakan beberapa aspek preferensi dari konsumen mengapa mereka lebih memilih untuk berbelanja di minimarket (retail modern) dibandingkan dengan berbelanja di kios tradisional (retail tradisional).

Sebuah penelusuran yang menarik untuk dicermati bahwa rivalitas atau persaingan dalam bisnis retail modern dan tradisonal (minimarket dengan toko dan kios di sekitarnya) senyatanya mengundang banyak perhatian, penyebabnya adalah menempatkan satu pihak (retail tradisional) dalam posisi yang lemah. Salah satu indikator ketimpangan kekuatan antara minimarket dan kios atau toko dapat dilihat dari segi pertumbuhan kedua jenis ritel tersebut. Kondisi aktual menunjukkan pertumbuhan bisnis minimarket setiap tahun meningkat positif, berbanding terbalik dengan keberadaan kios atau toko tradisional yang semakin melemah dan menghadirkan berbagai permasalahan.

Minimarket termasuk dalam kategori ritel modern dilihat dari model pengelolaannya yang menggunakan metode penjualan dengan cara swalayan. Posisi strategis sebuah minimarket merupakan salah satu titik lemah bagi keberadaan kios tradisional, terakumulasi dengan ketidakjelasan regulasi terutama menyangkut jarak lokasi, menambah berat upaya melindungi pebisnis toko dan kios tradisional. Perubahan gaya hidup konsumen, kepastian jam buka, kecepatan dan keramahan pelayanan, jumlah produk yang tersedia, diversitas jenis produk dan merek, promosi     (pemberian hadiah dan harga diskon), luas outlet, dan tempat parkir nyaman adalah rentetan simbol lain dari sebuah minimarket semakin menambah kompleks bukti kekuatan dalam berkompetisi meraih hati pembeli.

Sederet permasalahan yang telah diungkap bukan serta merta menggiring pebisnis kios tradisional untuk melakukan serangan balik.  Mewakili konklusi beberapa hasil penelitian bahwa Ritel tradisional dapat melakukan strategi bersaing dengan ritel moderen selaiknya menerapkan model saling bersinergi atau saling menguntungkan, dalam bentuk: kolaborasi dalam akses pasar dan serta kolaborasi pemasok dalam mensuplai produk yang bermutu, peningkatan mutu pelayanan, mempermudah akses pemberian bantuan pinjaman modal bagi retail tradisional agar dapat melakukan perluasan bisnis, kebersihan yang  memadai, cahaya yang cukup dan kenyamanan, joint venture (dalam bentuk perjanjian kerja) antara pemda dan sektor swasta serta pembagian zona/kawasan untuk jenis ritel tertentu sehingga dapat mencegah persaingan yang tidak berimbang;

Simbol  persaingan yang berjibun antara minimarket dan toko/kios dengan masing-, membutuhkan spirit vitalitas yang besar untuk mengurai dan mencarikan solusi pemecahan. Strategi yang paling mungkin digunakan dalam persaingan ini justru bagaimana menjalin sinergi antara keduanya, bukan dengan saling berhadapan untuk saling menyerang. Semoga bermanfaat**

Refrensi :

  • Tri Joko Utomo : 2011,  The Competition of Retail Business: Traditional vs Modern