Home / Admin : Winuantara (page 4)

Admin : Winuantara

Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Teknis Umum Dan Fungsional

 

PROFIL KABID PKTUF BPSDMD NTB 

 

IDENTITAS DIRI

Nama Lengkap  : Dra. BAIQ HONEY SUPRIHATIN
N.I.P  : 196409191990102002
Pangkat dan Golongan  : IV/b Pembina Tingkat I
Tempat Tanggal Lahir  : PRAYA, 19 September 1964
Agama  : Islam
Alamat Rumah  : JL DANAU LAUT TAWAR NO.3 PAGUTAN MATARAM 

RIWAYAT PENDIDIKAN

Tingkat Pendidikan Nama Universitas/Sekolah Bidang Studi Tahun Lulus
S-1/Sarjana UNIVERSITAS MATARAM S-1 EKONOMI MANAJEMEN 1989
SLTA SMA NEGERI 1 PRAYA SMA A.1/FISIKA 1983
SLTP SMP NEGERI 1 PRAYA - 1980
SD SDN PRAYA - 1976

RIWAYAT JABATAN STRUKTURAL

JABATAN TMT JABATAN
SEKRETARIS DINAS PEMUDA DAN OLAHRAGA 14 Agustus 2017
KEPALA BIDANG PENGEMBANGAN KOMPETENSI UMUM DAN FUNGSIONAL (BPSDMD NTB) 06 Februari 2020
Loader Loading...
EAD Logo Taking too long?

Reload Reload document
| Open Open in new tab

Download [136.45 KB]

 

PROFIL PEJABAT BPSDMD NTB

KEPALA BADAN 

Nama :  Ir. Wedha Magma Ardhi., M.TP
Jabatan Saat Ini :  Kepala BPSDMD Provinsi NTB
Jabatan Sebelumnya :  Kepala Bappeda Provinsi NTB
Pangkat/Golongan : IV/d Pembina Utama Madya
Pendidikan Terakhir : S-2

SEKRETARIS  

Nama : GUSTI AYU PARIATNI SE
Jabatan Saat Ini :  SEKRETARIS BPSDMD Provinsi NTB
Jabatan Sebelumnya : KEPALA SUB BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN BPSDMD Povinsi NTB
Pangkat/Golongan : III/d Penata Tingkat I
Pendidikan Terakhir : S-1




KEPALA BIDANG PKTUF

Nama : Dra. BAIQ HONEY SUPRIHATIN
Jabatan Saat Ini :  KEPALA BIDANG PKTUF
Jabatan Sebelumnya : SEKRETARIS DINAS PEMUDA DAN OLAHRAGA
Pangkat/Golongan : IV/b Pembina Tingkat I
Pendidikan Terakhir : S-1

KEPALA BIDANG PKM

Nama : ARIFIN S.H., M.H.
Jabatan Saat Ini :  KEPALA BIDANG PKM
Jabatan Sebelumnya : KEPALA BIDANG PENEGAKAN PERATURAN DAERAH ( SATPOL PP PROVINSI NTB)
Pangkat/Golongan : IV/b Pembina Tingkat I
Pendidikan Terakhir : S-2


KEPALA BIDANG PKTI

Nama : SAIFUL ISLAM S.PD.
Jabatan Saat Ini :  Kepala BIDANG PKTI
Jabatan Sebelumnya : KEPALA BAGIAN KERJASAMA NON PEMERINTAH
Pangkat/Golongan : IV/a Pembina
Pendidikan Terakhir : S-1 


KEPALA BIDANG SKPK

Nama : RAISAH S.E., M.M.
Jabatan Saat Ini :  KEPALA BIDANG SKPK
Jabatan Sebelumnya : KEPALA BIDANG MUTASI PEGAWAI (BKD PROV NTB)
Pangkat/Golongan :  Pembina Tingkat I IV/b
Pendidikan Terakhir : S-2

 

PERATURAN LAN RI

PERATURAN

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA (LAN RI)
[pdf-embedder url="https://bpsdmd.ntbprov.go.id/wp-content/uploads/2019/05/Peraturan-Lembaga-Administrasi-Negara-Nomor-15-Tahun-2019-tentang-Pelatihan-Kepemimpinan-Pengawas.pdf" title="Peraturan Lembaga Administrasi Negara-Nomor 15 Tahun 2019 tentang Pelatihan-Kepemimpinan Pengawas"]

PERATURAN KEPALA LAN RI 2019

 

 

SULITKAH MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI?

SULITKAH MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI?

Penulis: Muhamad Fathul Aziz, S.Pd

 

Kata literasi semakin akrab kita dengar akhir- akhir ini. Dalam banyak kesempatan, literasi diulas sebagai topik bahasan yang menarik dan penting karena semua pihak bersepakat bahwa memiliki kemampuan literasi yang baik adalah keharusan setiap individu. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan zaman. Bahkan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah mencanangkan dan mengupayakan pembudayaan literasi ini melalui program Gerakan Literasi Nasional ( GLN).

Literasi dapat dimaknai sebagai suatu kemampuan untuk memahami bacaan, kemampuan untuk menuangkan ide, gagasan, dan perasaan melalui lisan atau tulisan, juga kemampuan untuk memecahkan masalah dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkembangkan kemampuan ini adalah dengan mendorong setiap orang untuk gemar membaca dan berlatih menulis sehingga nantinya kegiatan literasi dapat menjadi budaya di masyarakat. Pertanyaannya adalah, sulit atau mudah-kah upaya ini?

Kita semua tentu sadar bahwa membangun sebuah budaya baru di masyarakat tentu tidak pernah mudah. Perlu usaha yang keras dan terus menerus. Mengkampanyekan pentingnya kegiatan ini dengan selalu menyediakan sarana yang memadai.

Kesadaran itulah yang harus terus dipupuk untuk kemudian diejawantahkan menjadi tindakan-tindakan nyata. Menumbuhkan gairah berliterasi dengan menggiatkan literasi di setiap tempat yang memungkinkan dengan seluruh sumber daya yang ada ke setiap lini masyarakat. Untuk pekerjaan besar itu, kita dapat memulainya dengan cara sederhana di tempat yang paling kondusif kepada generasi yang paling bertanggungjawab untuk memastikan kelanggengan budaya literasi ini di masa depan. Tentu saja menjadwalkan kegiatan literasi di sekolah- sekolah untuk diikuti seluruh peserta didik adalah cara yang paling sederhana tersebut.

Di sekolah- sekolah, tentu telah tersedia perpustakaan dengan beragam jenis buku yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk menggiatkan literasi. Kita dapat mengoptimalkan penggunaannya. Memariasikan jenis kegiatannya. Bekerjasama dengan pihak- pihak lain agar semua bersinergi untuk menyukseskan kerja besar ini.

Jika pun ragam bahan bacaan di perpustakaan terbatas -hanya buku- buku pelajaran- maka kepala sekolah dapat melakukan kerjasama dengan pihak- pihak lain yang dapat menyediakan bahan bacaan yang lebih beragam, salah satunya Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lombok Barat. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Lombok Barat telah meluncurkan program Library in the Box yang merupakan program pemberian pinjaman buku kepada pihak lain seperti sekolah- sekolah. Untuk mendapatkan pinjaman, sekolah hanya perlu menyediakan Box tempat penyimpanan buku dan materai yang digunakan dalam penandatanganan kerjasama. Sehingga tidak ada alasan bagi sekolah untuk tidak menggiatkan literasi dengan alasan ketiadaan bahan bacaan.

Selain meragamkan bahan bacaan, variasi kegiatan juga perlu diperhatikan dalam pelaksanaan literasi. Kegiatan literasi jangan hanya dimaknai sebagai kegiatan membaca di dalam perpustakaan. Buku- buku di perpustkaan tidak boleh hanya disimpan di rak- rak buku. Peserta didik harus diberi keleluasaan untuk memanfaatkannya di luar ruangan perpustakaan, semisal di lapangan sekolah maupun di kantin. Peserta didik juga harus diberi kemudahan untuk meminjam buku- buku tersebut untuk dibawa dan dibaca di rumah.

Sekolah- sekolah seringkali menjadikan banyaknya kasus kehilangan buku atau kerusakan buku yang dipinjam oleh peserta didik dan sebagainya sebagai alasan untuk tidak memperbolehkan mereka membawa buku keluar dari perpustakaan. Alasan ini memang dapat difahami, mengingat buku- buku di perpustakaan dibeli dari dana Bantuan Operasional Sekolah ( BOS) ataupun hibah dari pihak lain yang harus dipertanggungjawabkan peruntukannya. Akan tetapi, selama data- data peminjaman serta sanksi terhadap kelalaian peserta didik dalam menjaga buku yang dipinjamnya dapat dilaksanakan dengan baik, maka alasan tersebut tidak relevan lagi. Sebab apabila kasus- kasus kehilangan atau kerusakan tersebut dapat diminimalisir dengan kerapian data serta efek jera maka tidak boleh lagi dijadikan alasan untuk membatasi hasrat peserta didik berliterasi.

Kemudian kegiatan literasi jangan hanya dijadikan sebagai kegiatan formalitas, sekedar menjalankan program Gerakakan Literasi Nasional yang dicanangkan pemerintah dengan hanya membaca bersama. Dalam kegiatan literasi, peserta didik harus didorong untuk menceritakan hasil bacaan mereka, menulis ulang dalam bentuk teks yang berbeda- beda, menanggapi hasil bacaan ataupun sesekali sekedar bertukar cerita tentang hal-hal yang mereka hadapi sehari- hari. Peserta didik harus dilatih untuk berani berpendapat, memberi masukan terhadap model kegiatan literasi, agar mereka merasa dilibatkan dalam setiap kegiatan. Penting juga untuk mendatangkan sosok- sosok yang bergelut di bidang literasi, seperti wartawan, penulis, atau budayawan untuk berbagi cerita, tips dan trik menulis, serta memotivasi peserta didik untuk terus bersemangat dalam berliterasi.

Terakhir, hasil tulisan peserta didik harus dilombakan dan dipublikasikan, agar mereka semakin antusias untuk menulis. Hal ini telah terbukti berhasil meningkatkan motivasi literasi mereka, sebagaimana Laporan Hasil Aktualisi Nilai- nilai Dasar ASN yang berjudul “Peningkatan Motivasi Literasi Peserta Didik melalui pembuatan Pojok Teralis ( Literasi dan Lomba Karya Tulis) di SMPN 2 Gunungsari” yang ditulis oleh Muhamad Fathul Aziz, S.Pd. Dalam bagian lampiran laporan tersebut, disebutkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan berupa pembuatan Pojok Literasi serta mengadakan lomba literasi dengan mempublikasikan karya pemenang, mampu meningkatkan motivasi literasi peserta didik sebesar 63 persen. Maka kegiatan tersebut, terutama lomba literasi sangat baik jika terus dilaksanakan di sekolah- sekolah. Melalui lomba literasi itu, sekolah dapat melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.

Selain sebagai alat evaluasi, lomba literasi juga dapat dijadikan sebagai alat promosi literasi sekolah dengan memajang tulisan hasil karya pemenang di Majalah Dinding sekolah, di media sosial milik sekolah, bahkan dapat dipamerkan dalam kegiatan- kegiatan yang mengundang orang tua peserta didik. Sehingga diharapkan nantinya, para orang tua juga turut serta mendorong putra- putri mereka untuk membaca dan menulis di rumah. Saat semua ambil bagian dalam pelaksanaannya, maka meskipun sulit, tetapi tumbuh dan berkembangnya budaya literasi di masyarakat bukanlah sesuatu yang mustahil. Untuk itu, mari kita mulai sekarang!

Semangat dan salam Literasi!

Lampiran:

Profil Penulis

 

Nama                                      : Muhamad Fathul Aziz, S.Pd

Tempat, tanggal, lahir         : Senggigi, 19 Maret 1992

Alamat                                    : Dusun Senggigi, Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar

Pekerjaan                              : Guru Bahasa Indonesia

Tempat mengajar                : SMPN 2 Gunungsari

Hobi                                       : Bertamu dan menerima tamu, menulis puisi narasi

Organisasi                             : Ketua Karang Taruna Desa Senggigi periode 2019-2024

 

KISAH TENTANG GURU BIJAKSANA

KISAH TENTANG GURU BIJAKSANA

Oleh:

Drs. GUSTI LANANG RAKAYOGA, M.H
Fungsional Widyaiswara Madya
Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Daerah
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat

          Kisah perjuangan guru bijaksana berhasil mengantarkan anak didiknya menjadi manusia jenius, ilmuwan besar , penemu terbanyak, pengusaha sukses dan berpengaruh  dimuka bumiamerupakan kisah yang menarik sepanjang masa untuk dibabarkan kepada anggota pembelajar. Kisah ini , juga dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi anggota pembelajar untuk terus belajar, berkarya dan juga   didalam membelajarkan pembelajaran kepada peserta didik.

          Banyak kisah sukses guru bijaksana  yang lahir pada jamannya, ada yang berhasil dituliskan dalam catatan catatan buku tertulis, tetapi ada pula yang luput dari goresan buku tertulis. Mereka semua layak mendapatkan julukan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

          Kali ini sang pembelajar ingin membagikan kisah menarik dan berarti  dari seorang Ibu Guru dan sekaligus sebagai ibu rumah tangga yang bertanggungjawab terhadap anak, yang mencintai anak, dan  sangat fenomenal. Dia adalah Ibu Nancy.

 Dimata Ibu Guru Nancy naluri kebijaksanaan tentang mendidik telah tumbuh mekar, sehingga semua hal hal yang “mustahil” bagi kita menjadi mungkin bagi “dia”; “tidak bisa bagi kita” menjadi “dapat” bagi dia, gagal bagi kita menjadi sukses bagi dia.

          Kita semua  tahu bahwa, Ibu Guru Nancy telah melahirkan dan berhasil mendidik   seorang anak  menjadi jenius, menjadi pengusaha besar. menjadi  penemu besar dan terbanyak dalam sejarah penemuan  umat manusia yang hasil karyanya sangat bermanfaat dan dapat kita nikmati sampai sekarang. Anak tersebut bernama Thomas Alfa Edison. Dia lahir dari seorang ayah bernama Samuel Edison, dan ibu bernama Nancy Elliot Edison. Edison merupakan anak bungsu ketujuh,  yang lahir pada 11 Februari 1847 dengan nama panggilan Tommy.

          Tommy  merupakan seorang anak yang kreatif, inovatif, disiplin, tekun, ulet,  pekerja keras, dan dari tangannya telah melahirkan sekitar 2.332 penemuan yang telah dipatenkan diseluruh dunia,  Di Amerika Tommy mempunyai paten terhadap 1.093 teknologi yang telah dirintisnya sejak tahun 1872.

          Dari ribuan penemuan Tommy, tercatat sebanyak 5 penemuan yang paling terkenal karena bermanfaat dan dapat merubah hidup umat manusia. Kelima penemuan Tomy adalah Fonograf, Kinotoskop, Lampu Pijar, Alat Voting Elektronik,dan mesin pemisah bijih besi.

Ketika masih belajar disekolah, Tommy dikelaim sebagai anak yang bodoh, anak yang tidak bisa berkonsentrasi, sampai akhirnya gurunya menyerah untuk mendidiknya dan bermaksud mengeluarkannya dari sekolah.

          Pada suatu hari guru sekolah Tommy memanggil Tommy dan memberikan sepucuk surat kepadanya. Guru tersebut berpesan: “jangan buka surat ini diperjalanan, berikan kepada ibumu”. Tommy kecil dengan gembira membawa surat itu pulang dan memberikan kepada ibunya.

Setelah membaca surat, ibu Tommy menangis dengan berurai air mata (karena isi surat sebagai berikut; “putra anda anak yang bodoh. Kami tidak mengijinkan anak anda bersekolah lagi”. Tetapi isi surat yang negative tersebut dirubah menjadi positif oleh ibu Tommy, dengan membaca surat tersebut dengan suara yang keras dan lantang. “Putra anda seorang yang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidikya. Agar anda mendidiknya sendiri.

Sambil menghampiri Tommy, ibunya berkata,” Kamu anak yang jenius nak, sekolah belum cukup baik untuk mendidik anak yang hebat seperti kamu. Mulai saat ini ibu yang akan mendidik kamu dirumah”.

Akhirnya Ibu Guru Nancy mengajari sendiri anaknya dirumah dengan menyediakan buku buku sastra, ilmu pengetahuan dan sains untuk dibaca Tommy, sampai Tommy menjadi manusia sukses dan berpengaruh di dunia.

Satu hal yang paling dikenang Toomy terhadap ibunya adalah dengan ungkapannya seperti berikut. "Ibu saya adalah yang menjadikan saya seperti ini. Dia mengerti saya, dia membiarkan saya mengikuti kemauan saya. Dia selalu benar, sangat yakin, dan saya merasa ada yang harus saya jalani. Dia adalah seseorang yang saya tidak boleh kecewakan.

Setelah beberapa lama ibunya meninggal dunia, suatu hari Tommy ingin melihat lihat barang lama keluarga dirumahnya. Tiba tiba dia melihat kertas surat terlipat di laci sebuah meja.  Dia membuka surat dan membaca isinya, “Putra anda anak yang bodoh. Kami tidak mengijinkan anak anda bersekolah lagi”. Demikianlah isi surat yang sesungguhnya yang dibawa Tommy dan diberikan kepada  ibunya.

Reaksi Tommy setelah membaca surat itu, “ Tommy menangis berjam jam. Dia kemudian menulis di buku hariannya, “ Saya Thomas Alfa Edison, seorang anak yang bodoh, yang karena seorang ibu (guru) yang luar biasa, mampu menjadi seorang jenius pada jamannya.

Dalam kegelapan malam di rumah pembelajaran yang diterangi oleh listrik dan lampu pijar hasil penemuan Tommy, Sang pembelajar bertanya dalam diri. Mengapa Ibu Tommy (Nancy) mengubah kata kata negative dari guru Tomy menjadi pernyataan positif dan disuarakan dengan lantang dan sekeras kerasnya?. Mengapa Ibu Nancy mengatakan kepada Tommy, bahwa Tommy adalah anak jenius dan sekolah tidak mampu untuk mendidik anak sehebat Tommy?. Mengapa Ibu Guru Nancy meyakinkan Tommy bahwa dia mampu untuk mendidik Tommy di rumah?, Bagaimana kalau kelaim dari pihak sekolah men cap Tommy sebagai anak yang bodoh, dungu, tidak mampu duduk tenang dan berkonsentrasi didukung oleh Ibu Guru Nancy dan bahkan menghakimi Tommy?. Semua pertanyaan tersebut terus berkecamuk dibenak sang pembelajar.

Rumah Pembelajaran, Jumat 9 Agustus 2019.

 

KISAH ASA MENUJU PUNCAK KARIER WIDYAISWARA

KISAH  ASA  MENUJU PUNCAK KARIER

WIDYAISWARA

Oleh:

Drs. GUSTI LANANG RAKAYOGA, M.H
Fungsional Widyaiswara Madya
Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Daerah
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat

Layaknya semua  Aparatur Sipil Negara (ASN) yang  telah memilih jabatan, baik Jabatan Pimpinan Tinggi, Jabatan Administrasi   maupun jabatan fungsional, pastilah bermimpi  meraih puncak karier  jabatan  sebagai ASN. Tak terkecuali untuk Jabatan Fungsional Widyaiswara.

Sebanyak  6 (enam) orang Widyaiswara Ahli Madya Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Daerah Provinsi NTB  dengan pangkat dan golongan Pembina Utama Muda (IV/C)  sedang berjuang mengikuti  Pelatihan Kewidyaiswaraan  Berjenjang Tingkat Tinggi  yang difasilitasi oleh BPSDM Provinsi Riau di Pekan Baru. Nama nama mereka adalah: Ir. Maulana Razak, M.Si; Dra. Baiq Rusniyati, M.M; Drs. Gusti Lanang Rakayoga, M.H; Ir. Ahmad Machul, M.Si; Sri Wahyuni S.Pd, M.Pd, Prasetya Utama, SKM, M.Kes.

Pelatihan Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Tinggi merupakan salah satu syarat untuk menduduki Jabatan Widyaiswara Ahli Utama dengan Pangkat dan Golongan Pembina Utama (IV/D). Ada  oleh oleh menarik dari kisah perjuangan mereka, yang perlu dibagikan kepada ASN lainnya.

 

Pertama; Harap Harap Cemas

Ungkapan Frasa ini memang akan dialami oleh semua Widyaiswara yang hendak mengikuti pelatihan Kewidyaiswaraan berjenjang, baik untuk jenjang lanjutan, menengah maupun  tinggi. Apalagi untuk jenjang tinggi adrenalin harapan dan kecemasan berpacu lebih kencang lagi bagi widyaiswara yang memiliki batas usia kritis menjelang 60 tahun, karena: 1) Banyak Widyaiswara yang sudah mendaftar untuk pelatihan jenjang tinggi harus menunggu antrian mengikuti pelatihan sampai satu tahun lebih mengingat kapasitas Lembaga Administrasi Negara hanya mampu untuk menyelenggarakan pelatihan satu kali dalam satu tahun untuk satu angkatan yang jumlah peserta sekitar 30 orang. 2)Berdasarkan website Siwilan, jumlah peserta yang mendaftar mencapai angka lebih dari lima ratusan, yang dikategorikan dalam kelompok dapat diproses, dan konfirmasi mengikuti pelatihan. 3) Jika tidak memiliki sertifikan pelatihan jenjang tinggi, maka pupus sudah harapan untuk menjadi Widyaiswara Ahli Utama yang diimpi-impikan.

 

Kedua; Kerjasama Yang Baik Antara Widyaiswara Dan Jajaran Manajemen  Di Lingkungan BPSDMD Provinsi Riau.

          Memabaca, fakta dan informasi demikian, Widyaiswara BPSDMD Provinsi Riau tidak mau berdiam diri, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan pengembangan karier widyaiswara menuju widyaiswara utama khususnya kepada widyaiswara yang ada di Provinsi Riau dan umumnya kepada Widyaiswara di Indonesia yang masih menunggu daftar antrian panggilan mengikuti Diklat Penjenjangan tinggi. Dengan dukungan manajemen di Lingkungan Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Provinsi Riau, Widyaiswara dan jajaran manajemen bekerjasama dengan baik untuk mengatasi persoalan penyelenggaraan Pelatihan Widyaiswara Berjenjang Tinggi agar dapat difasilitasi dan diselenggarakan oleh BPSDMD Provinsi Riau. Mereka bersama sama mendekati dan meyakinkan stakeholders utama dan kunci baik yang ada di internal Pemerintah Daerah Provinsi Riau, maupun stakeholders eksternal di luar Pemerintah Provinsi Riau Seperti: Universitas Negeri Riau yang sudah memiliki Badan Layanan Umum (BLU), dan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia untuk mendapatkan izin prinsip penyelenggaraan kegiatan. Hasilnya, Alhasil dapat diselenggarakan dengan baik dan lancar yang pada saat pembukaan dihadiri oleh Gubernur Provinsi Riau yang diwakili oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Dan Kesejahtraan Masyarakat, Rektor Universitas Negeri Riau, Kepala Lembaga Administrasi Negara yang diwakili Oleh Deputi Bidang Kebijakan Pengembangan Kompetensi ASN, Dan Kepala Pusat Pengembangan Jabatan Fungsional Bangkom ASN.

Penyambutan dan pengantaran Peserta dari Bandara menuju tempat acara Jamuan Makan Malam sebelum acara pembukaan dimulai  serta menuju penginapan (hotel) ditangani dengan baik oleh jajaran manajemen dan widyaiswara yang terlibat. Pada saat acara jamuan makan malam yang diselingi dengan acara ramah tamah, setiap utusan dari Kementerian/Lembaga, dan Pemerintah Daerah diminta untuk menyumbangkan lagu untuk menyemarakan acara. Utusan BPSDMD Provinsi NTB diwakili oleh Ir. H. Ahmad Machul, M.Si, memberikan sentuhan terdalam kepada hadirin dengan membawakan lagu My Way dari Elvis Presly yang jaya pada masanya dan masih terasakan sampai saat ini.  

Ketiga, Kepedulian Koordinator Dan Jajaran Manajemen Untuk Pengembangan Karier Widyaiswara.

          Dengan  suatu komitmen yang kuat dan pola pikir jangka panjang terpatri secara mendalam pada coordinator dan jajaran Manajemen (Kepala BPSDMD Provinsi NTB, Sekretaris, Kepala Bidang SKPK, Kepala Sub Bidang Ketenagaan) yang memandang pengembangan kompetensi merupakan hak ASN, dan Widyaiswara sebagai ujung tombak yang akan mewarnai kinerja BPSDMD Provinsi NTB berhasil mengirimkan 6 (enam) Orang Widyaiswara Ahli Madya untuk mengikuti Pelatihan Penjenjangan Tinggi walaupun dihadapkan  pada situasi akhir yang kritis dari batas akhir pendaftaran. Mengapa? Karna persyaratan dari Penyelenggara Pelatihan meminta peserta untuk mengirimkan biaya kontribusi pada tanggal yang sudah ditetapkan, dan kondisi anggaran di BPSDMD Provinsi NTB belum mendukung untuk itu. Namun dengan pendekatan dan loby loby yang logis, manusiawi, dan meyakinkan dari Sekretaris, kepala Sub Bidang ketenagaan, Widyaiswara yang memiliki relasi dengan penyelenggara  maka persyaratan tersebut dapat dimudahkan untuk BPSDMD Provinsi NTB.

Keempat, Prinsip Manajemen Darurat Melahirkan Gerakan Spontanitas Dari Widyaiswara       

          Persoalan kontribusi sudah selesai. Bagaimana dengan pengurusan, Akomodasi, Penerbangan, SPT Dan SPPD?. Waktu kita pendek hanya hari ini saja, besok kita harus berangkat. Demikian gumam Widyaiswara baik secara verbal maupun dalam benak saja. Melihat situasi dan kondsi demikian para Widyaiswara mengatur diri masing masing, membagi penyelesaian urusan secara spontan. Ada yang bertugas mendekati manajemen untuk menyelesaikan SPT Dan SPPD; Ada yang mendekati relasinya untuk mendapatkan voucer Akomodasi dan Penerbangan yang dapat dibayarkan kemudian. Singkatnya dalam keadaan darurat ide ide kreatif dan semangat mereka muncul untuk mengatasi persoalan yang ada.

Kelima, Sambutan Dan Arahan Deputi Bidang Kebijakan Bangkom ASN Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia.

          Hal yang mendasar dari sambutan dan arahan Deputi Bidang Kebijakan Bangkom ASN Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia adalah bahwa, di era Pemerintahan Presiden Jokowi, salah satu pririoritas dari lima pririoritas yang dicanangkan dalam membangun Indonesia menyangkut pembangunan Sumberdaya Manusia. Kedepan penekanan daya saing bangsa tidak hanya berbasis pada sumberdaya alam, tetapi bertumpu pada sumberdaya manusianya. Peran sumberdaya manusia untuk menyatukan aspek teknologi dan aspek lainnya menjadi sentral. Oleh karena itu pembangunan sumberdaya manusia menjadi ujung tombak pembangunan bangsa yang dilakukan secara berkesinambungan.

          Berkaitan dengan Widyaiswara, widyaiswara harus mampu mengembangkan kompetensi untuk memenuhi standar kompetensi jabatan kewidyaiswara, antara lain kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi substantive/teknis, dan kompetensi social budaya. Dalam hal penguasaan teknologi computer dan informasi, Widyaiswara dituntut untuk mampu mengelola pembelajaran dengan metode E. Learning; Widyaiswara harus mampu membuat Video, Web Blog, dan karya karyanya dimasukan disana; Kemampuan menulis dan kemampuan digital harus terus dikembangkan oleh Widyaiswara sebagai guru bangsa. Pada kesempatan  yang sama saat  pengarahan, Kepala Pusat JF Bangkom ASN, menginformasikan perkembangan terakhir dari refisi Permenpan yang mengatur Jabatan Fungsional Widyaiswara. Bahwa BKN, Kemenpan RB, setuju dengan pemberian gelar Profesor untuk jabatan Widyaiswara Utama, dan mengenai persyaratan akademik pendidikan sedang digodok. Berkaitan dengan pengaturan orasi ilmiah bagi widyaiswara yang akan menduduki jabatan Widyaiswara Ahli Utama, pengaturannya mengalami perubahan. Pada pengaturan yang baru, proses orasi ilmiah widyaiswra dibagi kedalam dua tahap. Pertama, Tahap Pra Orasi. Dalam tahap ini setelah bimbingan oleh Tim Reviewer LAN Dan Instansi, Peserta Orasi Ilmiah akan diuji oleh  Tiga Tim Penguji dari Tiga Lembaga, yaitu: BKN, Kementrian PAN Dan RB, dan Lembaga Administrasi Negara. Hasil ujian, ada rekomendasi dari Tim berupa: 1)Kualified bisa dilanjutkan kearah publikasi di Jurnal; 2) Tidak kualified, bisa  melakukan perubahan kembali judul, substansi, atau sasaran penelitian sesuai dengan masukan dari Tim Penguji. 2) Kedua, Tahap Orasi Ilmiah. Dalam tahap ini Peserta orasi ilmiah hanya membacakan pidato orasi ilmiahnya dihadapan Majelis Orasi Ilmiah dan Undangan, tidak ada acara ujian atau Tanya jawab dari Majelis orasi Ilmiah.

 

 

Keenam, Mendapatkan Simulasi Pelatihan Menggunakan E. Learning

          Acara Simulasi Pelatihan menggunakan E. Learning dilakukan setelah acara pembukaan yang berlangsung dari pagi sampai sore hari. Peserta dibekali dengan pengetahuan penggunaan E. Learning dalam pembelajaran pelatihan dari Lembaga Administrasi Negara melalui Panduan E. Learning Pelatihan Kewidyaiswaraan Berjenjang.

  1. Learning Lembaga Administrasi Negara dikembangkan dengan menggunakan Aplikasi Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment (Moodle) yang berarti tempat belajar dinamis dengan menggunakan model berorientasi object. Moodle itu sendiri merupakan platform E. Learning atau bagian dari Learning Management System (LMS).

 Proses penggunaan E. Learning Lembaga Administrasi Negara dijelaskan dan dilatihkan secara tahap demi tahap kepada peserta pelatihan, sehingga diharapkan nantinya peserta pelatihan akan dapat dengan mudah menggunakan E. learning ini sebagai pendukung proses pembelajaran di kelas.

          Sesuai dengan  jadwal yang dijanjikan oleh Lembaga Administrasi Negara , bahwa pengelompokan peserta pelatihan Kewidyaiswaraan Jenjang Tinggi, beserta jadwal Pelatihan dengan menggunakan E. Learning dapat diakses informasinya melalui website http://Dev.elearning.go.id pada jumat sore 17 Januari 2010. Penelusuran yang dilakukan pada jumat sore berhasil menemukan pembagian Angkatan Peserta serta Pengelompokan peserta dalam setiap angkatan dan Jadwal Pembelajaran. Peserta dibagi kedalam dua angkatan, yaitu Angkatan I dan Angkatan II. Setiap Angkatan dibagi kedalam Kelompok, yang terdiri dari Kelompok A, B, C. Setiap Kelompok terdiri dari 9 Peserta yang berasal dari berbagai Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. Untuk Angkatan Pertama, Pelatihan dimulai pada senin 20 Januari 2020 Pkl. 08.00 Wib. Dan untuk Angkatan Kedua Pelatihan dimulai pada senin 27 Januari 2020 sampai dengan jumat 21 Februari 2020. Keenam Widyaiswara dari BPSDMD Provinsi NTB berada pada Angkatan Kedua dan Kelompok A. Jumlah anggota peserta Pelatihan Kelompok A sebanyak 9 orang, terdiri dari : 6 orang dari BPSDMD Provinsi NTB, 1 orang dari BPSDMD Provinsi NTT, 1 orang dari BPSDMD Provinsi Sulawesi Tengah, dan 1 orang dari BPSDM Kementrian ESDM.

          Masih ada waktu untuk menyiapkan diri dalam proses pembelajaran  pelatihan E. Learning Teman Teman Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB. Jaga kondisi fisik, mental, dan lainnya agar performance pada saat pelatihan dapat optimal. Selamat mengikuti Pelatihan Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Tinggi dan Selamat Berjuang Menuju Widyaiswara Ahli Utama. Semoga Kesuksesan menyertai anda semua.

 

 

 

 

Dari Rumah Pembelajaran, 19 Januari 2020

 

REKAP PROYEK PERUBAHAN – DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT III