Home / SUARA WI / Berangkat dari Isu Tupoksi, Peserta Latsar Rancang Berbagai Inovasi – Nurhikmah, S.I.P.,M.Hum Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB

Berangkat dari Isu Tupoksi, Peserta Latsar Rancang Berbagai Inovasi – Nurhikmah, S.I.P.,M.Hum Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB

Berangkat dari Isu Tupoksi, Peserta Latsar Rancang Berbagai Inovasi

Nurhikmah, S.I.P.,M.Hum

Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB

Pada tulisan saya sebelumnya, telah diungkapkan bahwa para peserta Latsar harus berani berpikir “Out of The Box” dalam merancang kegiatan aktualisasinya. Ini semata mata untuk mendorong mereka sebagai agen perubahan menuju “SMART ASN” dalam mendukung birokrasi yang berkelas dunia. Kali ini, saya akan membagi cerita tentang rancangan aktualisasi dari peserta Latsar CPNS Kabupaten Lombok Barat. Para peserta sudah mempresentasikan Rancangan Aktualisasinya pada Kamis-Jumat lalu.

            Sembilan orang yang menjadi peserta bimbingan saya adalah Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP), dengan rincian guru Seni Budaya 2 orang, Bahasa Inggris dua orang, Penjaskes 2 orang, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 2 orang, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1 orang, dan Bimbingan Konseling 1 orang. Kesemuanya ditempatkan di wilayah yang cukup jauh dari perkotaan, terbilang terpencil, ada pula yang terisolasi karena tidak adanya jaringan internet.

Saya melihat keunikan dari isu dan gagasan kreatif yang dihasilkan oleh mereka. Untuk guru seni budaya misalnya, ada yang melihat masalah sampah plastik kian hari kian menumpuk. Berbekal pengalaman seni yang dimilikinya, guru seni ini kemudian menjadikan sampah plastik sebagai perekat dalam pembuatan “paving block”, selain menghemat semen, hal ini bisa untuk memberdayakan sampah yang ada. Tak cukup sampai disitu, “paving block”, tersebut kemudian digambar dengan motif bergambar yang menjadi bagian dari pembelajaran seni budaya. Kreatif bukan? Ada pula guru seni yang melihat permasalah kurangnya minat siswa untuk menggambar, dan terbatasnya media untuk menggambar seni rupa. Lalu, karena di sekitar sekolah banyak tersedia batu kali, maka dia mengambil batu alam tersebut sebagai media untuk melukis dengan warna warni. Bahkan mentornya sangat mendukung, karena nanti akan ada “space” di sekolah tersebut sebagai tempat “selfie” pengunjung sekolah.

Ada pula Guru Bahasa Inggris, yang sama-sama memiliki masalah tentang kurangnya kosakata dan penguasaan Bahasa Inggris dasar, yang harusnya sudah dimiliki oleh siswa SMP. Namun, karena di sekolah dasar tidak diajarkan Bahasa Inggris, maka sang guru harus memutar otak untuk mengajak anak-anak mencintai pelajaran ini. Ada yang menggunakan berbagai metode seperti “VoCard”, dan mengaktifkan “English Fun Club” dengan beragam aktivitas seperti “story telling, watch the movie, sing a song”.

Sedangkan guru lainnya yaitu Penjaskes, melihat dua permasalahan yang berbeda. Ada yang mengangkat tentang sampah sebagai bagian dari Penjaskes itu sendiri, dengan melakukan kampanye kebersihan melalui kegiatan positif seperti operasi semut, pemilihan duta kebersihan, dan mural. Guru olahraga lainnya melihat pentingnya penekanan ekstrakurikuler sepakbola untuk mengembangkan potensi dan bakat siswa nya, sebagai bagian dari upaya mencapai prestasi sekolah.

Tiga guru lainnya dengan masing-masing permasalahan, yaitu Guru IPA, yang melihat laboratorium sebagai bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. Selama ini, laboratorium hanyalah ruangan yang kadang dipergunakan untuk kegiatan lain. Oleh karena itu, laboratorium ingin difungsikan dengan semaksimal mungkin, dan dimanfaatkan melalui berbagai kegiatan yang sesuai dengan anak-anak milenial seperti menonton film dan foto di laboratorium IPA yang kemudian akan diviralkan.

Pelajaran yang tak kalah pentingnya untuk membangun sikap kritis anak bangsa adalah Ilmu Pengetahuan Sosial. Sayangnya, dalam penilaian pembelajaran, anak-anak masih jauh tertinggal. Peserta Latsar menyadari bahwa kesadaran dan minat terhadap IPS harus didongkrak dengan display kelas yang mungkin di tempat lain sudah biasa, tapi di sekolahnya yang notabene terisolir menjadi sebuah inovasi. Begitu pula dengan guru Bimbingan Konseling, yang tantangannya juga besar, mengingat di sekolahnya sudah 3 tahun tidak ada guru BK. Pendekatan kepada anak-anak milenial, juga melalui “Konseling Sebaya” akan dilakukan demi mengubah “image” bahwa guru BK itu tempat penghakiman dan menyeramkan.

Mendengar berbagai permasalahan tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Lombok Barat, Panca Surya, selaku narasumber mengapresiasi semua rancangan tersebut. Namun, menurutnya, rancangan dan gagasan kreatif tersebut harus bisa terlaksana dan menghasilkan output yang menjadi solusi atas masalah yang ada. Atas hal itu, para peserta mengiyakan, dan menjanjikan video sebagai rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai bukti.

Seminar ini menjadi bagian dari agenda Peserta Latsar CPNS Kabupaten Lombok Barat, yang akan melakukan habituasi dalam 30 hari kedepan (off campus).  Sesuai Peraturan Lembaga Administrasi Negara  Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, mereka ditempa dengan 4 agenda, yaitu Nilai-nilai Bela Negara; Nilai-nilai Dasar PNS; Kedudukan dan Peran PNS; serta kompetensi teknis atau bidang.[]

 

Check Also

Setelah (ber) Inovasi, Hendaklah (ber) Istiqomah

Setelah (ber) Inovasi, Hendaklah (ber) Istiqomah Nurhikmah Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB Berita baik dari Peraturan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *