Home / SUARA WI / BETAPA MENAWANNYA SEORANG GURU

BETAPA MENAWANNYA SEORANG GURU

emang tak bisa disangkal bila ada yang mengatakan kalau setiap orang adalah guru. Itu karena siapapun akan bisa mengajar dengan cara dan pengetahuan yang dimilikinya. Mengajar itu memang sebuah seni, teaching is an art. Wajarlah bila kemudian ada guru yang begitu memukau dengan ketrampilan yang dimilikinya dalam mengelola kelas. Kelas adalah panggung bagi seorang guru. Tubuhnya adalah skenario yang berisi lakon apa saja. Pada tubuhnya itulah para penonton menyimak gestur dan tekstur kalimatnya. Bila sang aktor berhasil memperagakan apa yang yang menjadi hajat lakon untuk seluruh materi yang harus disampaikannya, maka keterpukauan penonton yang bernama para pembelajar akan dengan sepenuh kesanggupannya bisa menjelaskan kembali apa yang telah dilakukan oleh sang aktor. Isi cerita dan bahkan detil akting sang pelakon skenario itu akan bisa diceritakan dengan seluruh titik komanya. Aktor dan penonton selalu dalam transaksi yang lugas, bertemunya kesanggupan dan kepuasan.
Ya begitulah, murid-murid adalah penonton yang teratur dan berkepastian oleh keberadaan mereka yang merutin dan berkesinambungan. Dan karena itu, mereka adalah penyimak yang memiliki hak atas kesimpulan tontonan. Bila kelas harus disimpulkan, maka selalu diperlukan alasan untuk membuat kesimpulan tiu tak semata-mata subyektif. Kelas memerlukan perbandingan, sebagaimana bioskop menghadirkan tontonan dengan kesimpulan yang beragam di mata penontonnya yang memang tak cuma satu ragam harapan. Bukankah tontonan komedi atau drama serius memiliki penggemarnya masing-masing?
Itu sebabnya menjadi seorang guru dalam pengertian yang semestinya pastilah butuh kesungguhan. Butuh prasyarat agar profesionalitasnya terukur. Seorang guru bukanlah seorang pesulap, yang bisa membuat kreasi pengajaran dengan dasar bim salabim. Henry Brooks Adams, seorang sejarawan, sastrawan, wartawan sekaligus penulis Amerika Serikat, yang begitu terkenal di eranya, menggambarkan guru sebagai sosok yang mempengaruhi keabadian; ia bahkan tidak akan pernah mengatakan dimana pengaruhnya berhenti.
Begitulah hebatnya guru digambarkan. Bila guru itu adalah gambaran tentang kita, tentang kisah yang sekarang sedang kita peragakan saat berinteraksi dengan para penyimak untuk pengetahuan, nasehat, dan amanat kehidupan, maka tak ada pilihan lain kecuali memastikan diri kita untuk sanggup mengambil seluruh perhatian para penyimak itu. Tentu tak hanya pada interaksi fisik, melainkan juga psikis yang membuat interelasi kebatinan bisa terbentuk dengan amat kuatnya. Interelasi itu bisa memproduksi pertalian hubungan dalam cara saling menghormati, juga saling menghargai pada posisi masing-masing.
Sungguh menawan menjadi seorang guru. Karenanya, bila senyatanya kita adalah guru, tindakan-tindakan yang harus terus kita benahi adalah keyakinan diri untuk bisa memancarkan jawaban bagi harapan para penyimak. Pada cara kita sebagai guru saat mengajar, sesungguhnya sederhana rumusnya, seperempatnya kita gunakan untuk persiapan, dan tiga perempatnya lagi kita gunakan sebagai entertainer.

Kopajali, 22 Agustus 2019

Suara WI - One Day One Writing

Edisi : VIII/Agustus/2019

Penulis  :

Drs. Cukup Wibowo

Widyaiswara BPSDMD PemProv. NTB

 

Check Also

TENTANG MENULIS KREATIF || Catatan ringan Cukup Wibowo

TENTANG MENULIS KREATIF Catatan ringan Cukup Wibowo Selalu saja pertanyaan klasik itu muncul dan berulang, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *