Home / SUARA WI / GURU SESAT || Catatan Kontemplatif Cukup Wibowo

GURU SESAT || Catatan Kontemplatif Cukup Wibowo

GURU SESAT
Catatan Kontemplatif Cukup Wibowo

Di tempat kami ada seorang guru. Sebagian dari kami untuk rasa khusus justru memberinya sebutan dengan nama Guru Sesat. Tak banyak yang mengetahui ilmunya kecuali beberapa gelintir orang saja, dan dari jumlah yang sedikit itu adalah kami. Tentang jumlah yang tak banyak bila dibanding dengan yang mengakuinya sebagai guru itu sangat mudah untuk dipahami, tidak lain pada caranya dalam menjelaskan sesuatu dengan penuh anomali, tidak lazim seperti layaknya.

Kami sendiri menyadari kalau Guru Sesat kami itu ya kurang lebih seperti itu. Padanya tampak suatu anomali. Suatu keganjilan, keanehan atau penyimpangan dari keadaan biasa atau normal yang berbeda dari kondisi umum dalam suatu lingkungan. Dari apa yang kami baca, anomali secara umum mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan dimensi perilaku. Dari dimensi fisik anomali digambarkan sebagai suatu penyimpangan pada satu bagian atau bahkan seluruh bagian dalam tubuh manusia (atau hewan) secara keseluruhan.

Sementara dari segi dimensi prilaku, anomali oleh C.P. Chaplin digambarkan sebagai suatu penyimpangan baik secara individual maupun sosial. Sebagai contoh dalam bidang ekonomi, anomali dilihat pada penyimpangan keadaan harga dari harga yang seharusnya berlaku.

Secara umum anomali mengandung kelemahan yaitu kurang punya kekuatan untuk bisa melakukan suatu perubahan ketika kondisi mayoritas tersebut dihadapkan kepada norma, yaitu ketentuan hukum, aturan maupun toleransi sosial yang berlaku. Misalnya dalam bidang politik. Dapat diambil contoh dalam lingkungan dimana aktivitas korupsi telah menjadi sesuatu hal yang biasa, justru orang atau pejabat yang tidak melakukan korupsi ini yang akan dianggap sebagai anomali. Anomali itu sendiri tidak lagi sekedar penyimpangan dari hal yang biasa atau umum atau kondisi mayoritas, tapi secara lebih luas meliputi penyimpangan dari norma yang seharusnya, sesuai aturan ketentuan, hukum maupun toleransi sosial dan kaitannya dengan kedudukan dan peran seseorang dalam suatu lingkungan.

Gambaran anomali seperti penjelasan sedikit di atas hanyalah cara untuk menjadi pembanding gambaran agar bisa memudahkan uraian tentang keanomalian. Karena bagi kami, Guru Sesat itu sesungguhnya tak cuma satu, keberadaannya senantiasa mengisi ruang kemungkinan ketika kegelisahan dan keresahan mulai menguat di pikiran atas kelaziman yang justru tak menjawab harapan. Saat "ketersesatan" membutuhkan petunjuk, pedoman, dan arahan untuk memahami bagaimana dan semestinya ketersesatan itu harus dipahami sesungguhnya sejak saat itu kita membutuhkan seseorang yang bernama Guru Sesat. Ia tidak akan bisa memenuhi kelaziman karena setiap orang justru mengingkari dirinya. "Banyak orang sudah tidak berani menjadi dirinya sendiri. Mereka lebih memilih menjadi "orang lain" oleh ketakutannya akan jabatan, kekuasaan dan godaan-godaan yang membuat identitas dirinya lenyap ditelan oleh kepalsuan yang diinginkannya," papar H. Rusman, SH., MH dalam perbincangan lepas usai Seminar Aktualisasi Latsar CPNS Kelompok I Kabupaten Dompu di Ruang 1, BPSDMD Provinsi NTB.

Apakah kita masih menganggap ketersesatan itu hanya pada cara, penampilan, atau gestur? Dalam kesadaran dan penghayatan ketika kebenaran bukan merupakan kekeliruan yang dibenarkan dan membentuk kelaziman yang disepakati khalayak, maka kita sesungguhnya akan selalu membutuhkan kehadiran seorang Guru Sesat.

 

Check Also

STRUKTUR ORGANISASI BPSDMD PROVINSI NTB

Bagan Struktur Organisasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *