Home / SUARA WI / HASIL YANG BAIK TIDAK DIHASILKAN OLEH PERENCANAAN YANG BURUK || Oleh Drs Cukup Wibowo, MM.Pd Widyaiswara Ahli Madya di BPSDMD NTB

HASIL YANG BAIK TIDAK DIHASILKAN OLEH PERENCANAAN YANG BURUK || Oleh Drs Cukup Wibowo, MM.Pd Widyaiswara Ahli Madya di BPSDMD NTB

HASIL YANG BAIK TIDAK DIHASILKAN OLEH PERENCANAAN YANG BURUK
Oleh Drs Cukup Wibowo, MM.Pd
Widyaiswara Ahli Madya di BPSDMD NTB

Dalam tradisi yang menggambarkan bekerjanya kebersamaan, akan terlihat peran setiap orang menjadi minimal karena telah terambil oleh maksimalnya kolektivitas dalam mengatasi setiap urusan yang ada. Realitas ini menguatkan pandangan bahwa efektivitas suatu organisasi tidak dihasilkan oleh suatu dominasi melainkan distribusi yang terkontrol dan terkendali.

Begitulah sinergitas bermula. Ia serupa panggung dengan setiap detil tindakan yang menguraikan pemeranan dengan titik tekan siapa melakukan apa. Dan pada gambaran itu akan makin terasakan betapa setiap peran tak pelak menjadi tumpuan untuk membuat kekuatan terus berkembang merata untuk memenuhi kehendak dan harapan.

Ketika kata-kata bisa menjadi pelecut bagi terbitnya motivasi maka tak mengherankan suatu tujuan menjadi begitu mudahnya untuk dicapai. Berbeda halnya dengan situasi bila kata-kata senantiasa mendestruksi dan mendekonstruksi harapan dan cita-cita, maka yang tampak adalah kemandegan. Alih-alih membayangkan harmonisasi bisa tercipta, yang terjadi justru makin menguatnya individualitas yang justru membuat produktivitas makin jauh dari harapan.

Dalam keadaan ketika kesadaran menjadi sebuah kemewahan yang tak gampang untuk diwujudkan, maka diperlukan cara taktis untuk membuat perhatian lebih penuh ke satu fokus. Apakah itu? Fakta dan data dengan kepastian angka di dalamnya. Ya, hanya dengan kepastianlah sebuah perdebatan secara alami tak lagi diperlukan.

Sebuah hasil yang baik tak akan pernah bisa diwujudkan oleh buruknya perencanaan. Pameo ini akan selalu mengajarkan pada siapa saja tanpa terkecuali untuk secara konsisten merancang tujuannya lebih utama bertumpu pada akurasi (angka), bukan asumsi (kata). Pada hal sebaliknya, kata-kata lebih diperlukan dari uraian angka-angka ketika alur pikir memerlukan penjelasan untuk menguatkan argumentasi.

Kita semua memang tak boleh berhenti untuk menuju perbaikan dan kebaikan. Bila Tuhan telah menghadiahkan kebaikan bernama pikiran, maka tugas kemanusiaan kita selanjutnya adalah terus merawat dan mengarahkan pikiran itu menjadi tindakan yang menghasilkan  perbaikan bagi diri maupun sekitar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *