Home / SUARA WI / JALAN KEBAHAGIAAN || Oleh PRASETYA UTAMA

JALAN KEBAHAGIAAN || Oleh PRASETYA UTAMA

JALAN KEBAHAGIAAN

PRASETYA UTAMA

 

Menurut Anda, apa yang membuat kita benar-benar bahagia? Apakah punya do it (baca duit) yang melimpah banyak di tengah pandemi Covid-19?  Dengan duit yang   bisa travelling sekali sebulan,   bisa membeli lebih banyak barang yang kita inginkan, punya rumah mewah di mana-mana, punya mobil banyak, gadget gonta ganti, bisa makan enak sesuai selera di mana pun. Atau punya follower banyak, menjadi orang terkenal sehingga menjadi Public Figure sehingga jadi perbincangan dan viral di mana-mana baik media elektronik maupun media cetak. Jawaban pertanyaan ini pasti akan berbeda-beda bagi sebagian orang.

Mari kita coba renungkan dengan hasil  penelitian yang dilakukan  oleh Harvard Study of Adult Development.  Penelitian ini dengan mengambil sampel 724 laki-laki selama 75 (tujuh puluh lima) tahun untuk mengidentifikasi faktor-faktor psikososial penuaan yang sehat. Para peneliti mengobservasi ke dalam 2 (dua) grup responden yang berbeda: 456 laki-laki dari golongan menegah ke bawah di kota Boston dan 268 laki-laki lulusan Universitas Harvard. Para ilmuwan mengumpulkan sampel darah, melakukan brain scans dan menganalis survei buatan sendiri dan interaksi aktual dengan para responden. Selain itu juga diwawancarai tentang aspirasi, kehidupan pernikahan, kehidupan kerja, kegiatan sosial, serta dipantau kesehatan fisiknya dan terus dipantau hingga mereka berusia 80 tahun-an. Penelitian berlanjut dengan mewawancarai anak-anak dari responden sebelumnya.

Banyak orang berkeinginan untuk bisa memiliki banyak uang, terkenal, punya jabatan tinggi, dan sebagainya. Sebuah tujuan hidup yang dikira akan mendatangkan kebahagiaan. Ternyata, Dr. Robert Waldinger, mengatakan kebahagiaan itu tidak ada hubungannya dengan kekayaan maupun ketenaran. Apalagi kalau miskin beneran......(mentalitas miskin). Kekayaan  ternyata tidak menjamin suatu kebahagiaan hidup seseorang.

Pesan paling penting dari penelitian selama 75 tahun ini adalah: hubungan sosial yang harmonis dan baik dengan keluarga, teman dan pasangan yang membuat kita lebih bahagia dan lebih sehat. Secara tidak langsung, kehidupan sosial yang baik pun akan melindungi kita dari penyakit mental, kronik, dan penurunan fungsi otak. Selain itu hidup bahagia bukan tentang seberapa banyak keluarga dan teman yang kita miliki, tetapi seberapa baik kualitas hubungan sosial kita dengan mereka.

Ada satu hal menarik,  tentang harta dan kebahagiaan. Penelitian dari Daniel Kahneman (Pemenang Nobel Ekonomi Tahun 2002) dan Angus Deaton,  yang dipublikasikan Princeton University, menunjukkan walaupun pemasukan kita bertambah terus, akan ada satu batas di mana kebahagiaan kita tidak bertambah secara signifikan walaupun kekayaan kita bertambah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tingkat kebahagiaan kita akan hidup akan dicapai kalau sebuah rumah tangga memiliki penghasilan US$ 75,000 per tahun. Saat penghasilan keluarga di bawah itu, setiap penambahan penghasilan akan meningkatkan kebahagiaan keluarga. Tetapi begitu lewat angka itu, indeks kebahagiaan keluarga di Amerika Serikat sana diakui sama saja dengan sebelumnya, tidak lebih, tidak kurang.  Dengan demikian, melimpahnya harta dan kebahagiaan pasti akan ada batas kita sanggup dan bahagia menikmati kekayaan kita, sampai akhirnya kita bosan sendiri dengan kekayaan kita. Dan pada akhirnya tidak bertambah bahagia.

Seperti kisah berikut ini, dibalik kesuksesan Samsung sebagai perusahaan terdepan dibidang teknologi komunikasi, rupanya keluarga konglomerat yang sampai saat ini ditetapkan sebagai keluarga terkaya di Korea Selatan menyimpan duka yang mendalam. Lee Kun-hee merupakan seorang pengusaha yang berhasil mengembangkan Samsung menjadi perusahaan besar seperti saat ini. Lee Kunhee memiliki 4 orang anak dengan 1 putra dan 3 putri.

Memiliki kekayaan berlimpah, membuat keluarga ini menjadi idaman bagi seluruh masyarakat Korea. Namun pada tahun 2005, sebuah kabar mengejutkan datang ke keluarga ini. Putri termuda Lee Kunhee yang bernama Lee Yoon-hyung dinyatakan meninggal dunia. Saat meninggal Lee Yoon-hyung hanya berumur 26 tahun saja, meskipun begitu ia telah memiliki jumlah saham di Samsung lebih dari 100 juta dollar. Angka yang sangat besar untuk seseorang berumur semuda itu. Beberapa hari setelah pernyataan meninggalnya Lee Yoon-hyung, perwakilan Samsung memberikan pernyataan sebenarnya bahwa sang putri dari keluarga konglomerat Samsung tersebut telah meninggal karena bunuh diri pada tanggal 19 November 2005.

Dari penelitian tersebut ada lesson learnt (pelajaran) yang bisa kita ambil sebagai berikut :

Pertama, yang dimaksud dengan sehat menurut WHO adalah sebagai berikut:

“ Health is a state of complete physical, mental, and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity “. Sehat adalah keseluruhan keadaan fisik, mental, sosial yang baik bukan bebas dari penyakit dan kecacatan termasuk di sini juga bisa bekerja secara produktif.

Sehat secara sosial  ditunjukkan dengan menjalin hubungan yang harmonis dan baik dengan teman, kerabat, keluarga dan pasangan kita. Hal ini dapat kita lakukan dengan saling tolong menolong, saling bekerja sama dan saling berbagi diantara kita sehingga menumbuhkan benih-benih kasih sayang apalagi jika kita menolong ke orang dengan sikap itsar (lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri). Sikap tidak pelit dan berbagi dengan saling mentraktir atau bersedekah makanan kepada teman kerja, tetangga atau kerabat kita patut kita apresiasi, namun zaman milenial ini yang sering kita jumpai orang hanya berbagi foto makanan via facebook atau WApadahal yang namanya sedekah itu berbagi makanan riel bukan virtual. Rasulullah SAW berkata dalam  ucapan yang beliau lontarkan salah satunya adalah, " Tahaddu tahabbu “, yang artinya “ saling memberilah hadiah, maka kalian akan saling mencintai “.Tentu hal ini kalau sudah terbiasa dan terlatih kita lakukan atau amalkan akan mengikis sifat-sifat ego, kikir, angkuh atau sifat-sifat negatif lainnya sebagai manusia.  Selain itu sehat secara sosial tercermin dalam sikap kita berkomunikasi atau berinteraksi dengan teman kita yang mungkin latar belakang, karakter, budaya yang berbeda dengan kita tetapi kita bisa menjaga dan memelihara jalinan hubungan dengan suasana yang harmonis dan baik, bila kita mempunyai prinsip bekerja sama dan tolong menolong dalam hal-hal yang kita sepakati dan  toleransi terhadap suatu perbedaan dalam hal apapun.

Karena sekarang ini situasinya masih terjadi pandemi covid-19, jalinan hubungan atau silaturrahim yang harmonis dan baik dengan keluarga, saudara dan teman-teman kita supaya tidak terputus bisa kita perkuat melalui daring misal via video call, WA, dan sebagainya. Berinteraksi dengan mereka yang kita sayangi juga bisa membuat kita menjadi merasa positif dan tetap bahagia. Melihat bahwa mereka semua baik-baik saja, dalam kondisi sehat, akan membuat kita jadi semangat untuk saling menguatkan dan mendoakan. Dengan bahagia yang ada di dalam hati tentu akan menguatkan imun dan daya tahan tubuh kita terhadap penyakit.

Rasulullah saw pernah bersabda, "Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging yang apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari & Muslim).

Apa yang dikatakan Rasulullah sudah pasti benar dan memang menurut penelitian, hati yang selalu dalam keadaan baik akan membuat seseorang selalu dalam keadaan baik termasuk bahagia. Ibnu Sina yang dijuluki bapak Kedokteran Dunia bahkan pernah menyebut bahwa suatu penyakit bisa disembuhkan apabila dalam diri seseorang tersebut terdapat suatu kebahagiaan yang muncul dari hati dan pikirannya.

Kedua,  Kita sebagai seorang muslim bukan berarti dilarang kaya. Boleh kita kaya sepanjang dalam mencari dengan jalan yang benar, halal dan diridhai Allah. Bila ingin jadi orang kaya, maka jadilah orang yang kaya “pas-pasan” artinya pas butuh ada, peliharalah sifat qanaah, jangan bernafsu mendapatkan kepunyaan orang lain, mendapatkan harta dengan cara yang haram, hiduplah sepenuhnya dalam ketaatan kepada Allah saja. Sesuatu banget  kalau kita mempunyai harta atau kekayaan dimanfaatkan untuk memberikan manfaat untuk orang banyak atau kepentingan sosial (keshalihan sosial) bukan untuk dirinya saja. Mendirikan panti asuhan anak yatim, yayasan untuk orang-orang jompo, mendirikan masjid, menghajikan marbot masjid dan sebagainya. Pada prinsipnya harta kekayaan yang berlimpah dan banyak akan lebih aman dan bermanfaat bila yang memegang amanah tersebut orang muslim yang taat dari pada harta dan kekayaan yang banyak tetapi yang mengendap pada orang muslim yang tidak taat. Kalau yang memegang harta kekayaan itu orang muslim yang tidak taat kemungkinan besar akan disalahgunakan untuk hal-hal yang dilarang atau diharam oleh Allah.   Sesungguhnya harta atau kekayaan yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban nanti di hadapan Allah. Jangan sampai karena kekayaan atau harta kita yang berlimpah menjadikan diri kita lupa terhadap Allah dan kehidupan di akhirat. Inilah jiwa yang bahagia!

Ketiga. Pelajaran yang terakhir adalah mari kita hindari mencari rasa bahagia dengan gaya hidup, konsumerisme (suka belanja) atau hedonisme (mencari kesenangan sesaat yang haram). Makanya, ada baiknya kita pertimbangkan lagi, kalau nafsu untuk membeli sesuatu muncul. Apakah memang itu merupakan kebutuhan atau sekadar keinginan belanja atas nama “membahagiakan” diri sendiri? Kalau memang jawabannya yang terakhir, coba kita urungkan dulu. Adalah penting juga buat kita untuk tetap bersyukur di saat kondisi seperti ini. Ada banyak hal, yang bisa disyukuri antara lain, bersyukur masih bisa berada di dalam rumah bersama keluarga, bersyukur masih tersedia makanan yang bisa disantap dengan nikmat, bersyukur masih bisa tidur dengan nyenyak. Bersyukur masih bisa mendampingi anak-anak sekolah, bersyukur masih bisa menjalankan ibadah puasa, dan sebagainya. Dengan banyak banyak bersyukur membuat hati lebih bahagia. Bukan bahagia dulu baru bersyukur. Wallahu’alam Bisshawab

 

2 Komentar

  1. Alhamdulillah, dapat ilmu yg bermanfaat, intinya hidup bahagia itu terletak pd bagaimana menyikapi kondisi yg dihadapi dg penuh ketawakalan serta keridho’an pd Allah maka hati akan tetap merasa puas dg segala kondisi dan dengan sendirinya kebahagiaan itu akan hadir dalam hidup kita, Terima kasih atas ilmunya.

     
  2. Masha Allah… Super sekali, Syukron

     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *