Home / SUARA WI / KELUAR BARISAN Oleh: Cukup Wibowo

KELUAR BARISAN Oleh: Cukup Wibowo

KELUAR BARISAN

Oleh: Cukup Wibowo

 

Perasaan senantiasa terlindungi itu karena kita tak merasa sendiri. Kita berada di antara banyak orang, di antara keberagaman, dan oleh karena itu kita telah menjadi bagian dari perhatian kolektivitas.

 

Kebersamaan yang bermanfaat itu mengandung pesan bahwa  yang besar itu mulainya dari yang sedikit, tapi bersedia untuk bersatu dalam himpunan untuk kemudian saling berbagi kesanggupan satu sama lain. Pada yang sebaliknya, setiap anggota perhimpunan juga mau terus belajar atas ketidaksanggupannya pada mereka yang sanggup. Begitulah pelajaran hidup dari kurun waktu ke waktu yang diwariskan oleh para bijak bagaimana dialektika saling berkebutuhan harus terus dirawat bila menginginkan keseimbangan yang benar dan menyenangkan.

 

Namun begitu, selalu muncul yang namanya “rasa paling” dalam diri setiap orang, yang justru membuat cita-cita kebaikannya tergagalkan oleh dirinya sendiri. Sadar atau tidak, rasa itu memang bersemayam  dalam diri seseorang seiring dengan hasrat yang melekat padanya. Hanya dengan kearifan dan tindakan bijak yang membuat semua “rasa paling”itu tak berkembang lebih buruk.

 

Menjauhi kebersamaan itu sama dengan menjauhi kebermanfaatan yang lebih. Menjauhi kebersamaan itu tidak sama dengan menganggap kesendirian sebagai hal yang lebih baik bila ternyata kita masih berada dalam kebutuhan sosialita yang tak bisa kita elakkan. Terkadang kesendirian memang diperlukan di saat diri, seperti kata Kuntowijoyo, membutuhkan transendensi. Sebuah kerinduan untuk berdialog dengan Tuhan dalam penghayatan yang amat personal atas  kehidupan yang abadi.

 

Hidup pada akhirnya tak lebih dari cara mempertemukan diri dalam sebuah persenyawaan yang pasti. Apakah sebuah kekurangan bisa teratasi untuk menjadi kelengkapan bila kita sendiri justru menyempurnakan kekurangan itu dengan cara keluar dari barisan?

 

Semoga kita tak sulit untuk merumuskan jawaban atas pertanyaan di atas di saat kita juga memiliki kebutuhan atas nikmatnya kebersamaan.

 

Kopajali-Mapak, Kamis 14 Nop 2019

 

Check Also

SILATURAHIM KEPALA BPSDMD NTB DENGAN WIDYAISWARA

SILATURAHIM KEPALA BPSDMD NTB DENGAN WIDYAISWARA   Suasana Silaturahim Kepala BPSDMD NTB dengan Para Bapak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *