Home / SUARA WI / KEPEKAAN, CIKAL BAKAL HILANGNYA KESOMBONGAN

KEPEKAAN, CIKAL BAKAL HILANGNYA KESOMBONGAN

KEPEKAAN, CIKAL BAKAL HILANGNYA KESOMBONGAN

Dalam keseharian kita sering menjadi saksi bagaimana sebuah perasaan paling hebat menghinggapi diri seseorang. Sebuah perasaan untuk menempatkan diri lebih penting, lebih utama dari orang lain. Seolah-olah orang lain itu kecil dan remeh karena tak memiliki otoritas yang patut dibanggakan. Hanya diri sendiri yang hebat dan kuat karena sedang memiliki sesuatu yang orang lain tak memilikinya. Kenapa perasaan itu harus kita cegah bila seandainya menghinggapi diri kita? Karena kita semua tahu dan itu  telah terbuktikan, yang berhak atas kehebatan itu sudah ada, dan memang hanya DIA yang paling berhak untuk disebut hebat.

 

Bila ungkapan “hindarkan diri dari perasaan paling hebat” adalah sebuah peringatan, maka peringatan itu biarlah untuk diri kita saja, biar menjadi keharusan yang kita ikuti karena kebaikan yang dikandungnya. Terhadap kesombongan orang lain, biarkan itu menjadi urusannya sendiri. Sebab setiap urusan itu kembali pada masing-masing. Di dunia ini untuk urusan hati sudah ada yang mengurus, ialah Dzat yang Maha membolak-balikkan hati. Dan masing-masing kita hanya bisa bermohon untuk senantiasa ditetapkan di ketetapan hati yang baik.

Kebersediaan diri untuk terus belajar akan membuahkan tambahan ilmu. Sebagaimana halnya dengan ilmu tentang kepekaan atau sensitivitas, tak akan bisa seseorang peka dengan apa yang terjadi di sekitar bila ia tak melatih refleks kepekaannya. Kepekaan itu melahirkan rasa malu untuk yang melakukan yang tak pantas dilakukan, rasa bersalah karena telah menyinggung perasaan orang lain, rasa belum berbuat apa-apa karena masih asyik dengan diri sendiri, rasa kurang ilmu karena merasakan betapa maha luasnya ilmu-Nya. Kepekaan adalah cikal bakal dari hilangnya rasa sombong.

 

Sebaliknya, ketidakpekaan akan membuat perasaan yang semula biasa dengan cepatnya berubah menjadi luar biasa. Oleh kesempatan dan otoritas yang dimilikinya, seseorang yang dulunya biasa saja tiba-tiba berubah perangainya. Yang dulu bersahaja dan mengalah tiba-tiba menjadi besar kepala. Oleh kepalanya yang membesar seolah-olah orang lain jadi terasa kecil dan tak sepadan dalam pandangan. Jabatan, kekuasaan, harta, dan ilmu adalah bahan kehebatan yang bisa membuat orang bersikap sombong, menolak kebenaran dan bahkan sampai merasa bahwa dirinya setara dengan Tuhan. Tidakkah mereka belajar dari kesombongan Firaun, dimana hidupnya berakhir dengan tragis dan penuh kehinaan, sampai-sampai usaha tobatnya tidak diterima oleh Allah? Naudzubillahi mindzalik!

 

Semoga pagi ini kita dicerahkan oleh cara Tuhan memilih hamba-hamba yang dikehendaki-Nya untuk menjadi pribadi yang menyenangkan karena kerendahan hati dan kepekaannya terhadap sekitar. Kepekaan untuk bersedia melakukan kemanfaatan bagi orang lain.

 

Kopajali-Mapak, Senin 16 September 2019.

 

Check Also

LAPORAN KEUANGAN

LAPORAN KEUANGAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *