Home / SUARA WI / Learn and Relearn dengan Mengenal Karakter dan Pola Pikir 5 Generasi || Nurhikmah Widyaiswara BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat

Learn and Relearn dengan Mengenal Karakter dan Pola Pikir 5 Generasi || Nurhikmah Widyaiswara BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat

Learn and Relearn dengan Mengenal Karakter dan Pola Pikir 5 Generasi

Nurhikmah

Widyaiswara BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat

 

 

Belajar dalam keberagaman dan perbedaan itu sungguh menarik. Konon katanya harmoni itu tercipta dari bermacam aspek perbedaan. Saya sangat bersyukur bisa berkumpul dan belajar bersama orang-orang yang beragam, baik dari usia, pengetahuan, pengalaman, pandangan hidup, bacaan yang unik, hingga hobi-hobi luar biasa. Ini potensi besar, yang kalau dikelola dengan baik, akan terintegrasi dengan perkembangan organisasi yang hebat pula.

Salah satu unsur penting dalam suatu organisasi, sekecil dan sebesar apapun, pastilah tentang sumber daya manusia. Sebenarnya apa sih sumber daya manusia? Pendefinisian mengenai sumber daya manusia sangat beragam. Para ahli studi bisnis mengartikannya sebagai pengelolaan sumber daya manusia dalam upaya pemanfaatan semua SDM yang belum terolah di dalam suatu organisasi, baik itu potensi keahlian, pengetahuan, komitmen/loyalitas, atau kompetensi.

Namun, seperti apakah SDM yang beragam ini bekerja bersama dan mewujudkan organisasi yang hebat? Kali ini, saya ingin menguliknya dari tipe tiap generasi. Tak dapat dimungkiri, bahwa setiap zaman memiliki karakter masing-masing, termasuk dalam pembagian 5 generasi, yang meskipun tak dapat digeneralisir, tapi setidaknya memberi gambaran umum.  Mari kita cek bersama-sama ya. (Sumber https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3677417/kenali-karakter-dan-pola-pikir-5-generasi-ini-agar-semakin-bijak)

Pertama, babyboomers (1946-1960). Generasi ini adalah generasi mandiri yang memegang teguh adat istiadat sehingga cenderung kolot, namun sangat matang dalam pengambilan keputusan karena pengalaman kehidupan yang pernah dilalui. Uang dan pengakuan dari lingkungan adalah keinginan mereka. Umumnya, gengsi menjadi urutan pertama dalam kehidupan sosial. Meskipun begitu mereka mencari uang untuk keluarga, yaitu bekerja keras untuk mensejahterahkan anak-anak.

Kedua, generasi X (1961-1980). Generasi X sangat terbuka dengan kritik dan saran demi terwujudnya efisiensi dalam bekerja. Kehidupan antara pekerjaan, pribadi dan keluarga cenderung seimbang karena pemikiran bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.

Ketiga, Generasi Y-Milenial (1981-1994). Generasi milenial lahir di saat teknologi sedang berkembang pesat. Kehadiran komputer, video games, gadget, dan smartphone yang tersambung dengan kecanggihan internet membuat generasi ini mudah mendapatkan informasi secara cepat dan sebagainya. Dengan pendidikan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, generasi ini bisa dikatakan penuh ide-ide visioner, inovatif untuk melahirkan pengetahuan, dan penguasaan IPTEK.

Keempat, Generasi Z (1995-2010), generasi yang sudah sangat mengenal teknologi. Sejak kecil, mereka lebih gemar bermain gadget dibandingkan permainan tradisional anak di era sebelumnya. Jadi, jangan heran kalau generasi Z cenderung menyukai sesuatu serba yang instan. Begitu akrabnya dengan internet, generasi Z suka mencari popularitas dengan aktif di berbagai sosial media dengan style masing-masing.

Kelima, Generasi Alpha (2011-sekarang). Generasi ini terlahir dengan teknologi yang semakin berkembang pesat. Di usia mereka yang sangat dini, mereka sudah mengenal dan menggunakan gadget, smartphone, dan kecanggihan teknologi yang ada.

Sebagai widyaiswara misalnya, pemahaman akan karakter 5 generasi ini menjadi penting ketika menjalankan tugas Dikjartih. Ada seorang widyaiswara yang mengatakan bahwa berpikir dan kembangkanlah diri satu tingkat dari generasi yang menjadi peserta. Misalkan kita akan mengajarkan generasi Y dan Z, maka tentu kita harus menyampaikan materi dengan pola yang sesuai atau bahkan lebih “canggih” diatas para peserta.

Akan hal ini, agaknya pandangan Jack Ma, pebisnis tersohor dari Tiongkok, yang mengatakan bahwa “In the future is not about the competition of knowledge, it’s a competition of creativity, competition of imagination, competition of learning, competition of independent thinking”, itu benar adanya. Bahwa kreativitas, imajinasi, pembelajaran, dan kemerdekaan berpikir merupakan poin penting yang harus dimiliki, termasuk oleh ASN, agar bisa mewujudkan ASN Corpu dan World Class Bureacracy .

Setiap orang, dari generasi manapun hendaknya memahami dua hal yang terjadi pada Industri 4.0. Pertama, bahwa di era ini, karakter industri yang terjadi adalah digitalisasi. Di era digitalisasi pengetahuan yang berkembang pesat, sumber informasi, pengetahuan, ide dan imajinasi bisa datang dari delapan arah mata angin. Hal ini hendaknya bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan pembelajaran. Kedua, karakter pembelajaran yang mungkin adalah kolaborasi. Dengan mengenal dan memahami tipe tiap generasi, kolaborasi , sebagai proses pembelajaran diri dan organisasi, menuju  Learning Organization  akan terwujud. Dengan adanya “keharusan” untuk kolaborasi, sinergi, komitmen bekerja sama, maka mau tak mau kita membutuhkan satu prasyarat yang sangat penting, yaitu sukarela, bukan sukar-rela.

Akhirnya, selamat datang Era Kenormalan Baru untuk selalu learn and relearn. []

 

Check Also

Menjadi ASN Pancasilais Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekedar Retorika || Oleh Nurhikmah, S.I.P.,M.Hum

MENJADI ASN PANCASILAIS BUTUH AKSI NYATA, BUKAN SEKEDAR RETORIKA NURHIKMAH, S.I.P.,M.HUM WIDYAISWARA BPSDMD PROVINSI NTB …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *