Home / SUARA WI / MEMAHAMI DIKSI GUBERNUR ZUL Catatan ringan || oleh Cukup Wibowo Widyaiswara di BPSDMD NTB

MEMAHAMI DIKSI GUBERNUR ZUL Catatan ringan || oleh Cukup Wibowo Widyaiswara di BPSDMD NTB

MEMAHAMI DIKSI GUBERNUR ZUL
Catatan ringan oleh Cukup Wibowo
Widyaiswara di BPSDMD Prov NTB

Dalam sebuah pertemuan hal yang tak bisa dielakkan untuk terjadi adalah kemungkinan  terbitnya kesesuaian atau ketidaksesuaian antara satu pikiran dengan pikiran lainnya. Oleh keadaan seperti itu pertemuan bisa berkembang lebih optimal sesuai harapan atau sebaliknya tak memenuhi harapan dan ujung-ujungnya hanya membuat para peserta pertemuan memperoleh kekecewaan sebagai kesimpulan. Bila ditelisik lebih lanjut, munculnya kesesuaian itu lebih utama disebabkan oleh bertemunya orientasi berpikir yang sama atau tidak ditemukan adanya bias pemahaman terhadap tujuan yang dikehendaki secara bersama. Demikian juga halnya dengan ketidaksesuaian, muncul dan menguatnya lebih didominasi oleh perbedaan cara pandang maupun persepsi  yang sulit untuk menemukan titik temu apresiasi satu sama lain.

Upaya untuk mempertemukan kesesuaian dan mengeliminasi potensi atas munculnya ketidaksesuaian itu mengemuka dalam pertemuan antara Gubernur DR Zul dengan para widyaiswara di BPSDMD Provinsi NTB (Rabu, 17/6). Dalam pertemuan berdurasi hampir satu jam yang ditingkahi oleh gelak tawa dari mereka yang hadir, dapat dipastikan gambaran suasana yang berkembang di sana, sebuah suasana penuh kegembiraan .

Sebagaimana yang dilakukannya selama ini oleh Gubernur dalam kunjungan dan pertemuannya dengan berbagai kalangan, menceritakan kisah-kisah yang di dalamnya penuh dengan inspirasi maupun pelajaran yang bisa dipetik telah menjadi ciri dan cara khas Gubernur untuk menggambarkan orientasi pikiran yang hendak dituju. Dalam pertemuan dengan para widyaiswara, misalnya, pilihan cerita yang disampaikan oleh Gubernur tentang para guru hebat di Amerika dan India yang tak lagi menulis buku melainkan membuat video pembelajaran dalam durasi tak lebih dari tiga menit. Diuraikan oleh Gubernur dengan sangat runut san sistematisnya. Ungkap Gubernur, realitas zaman yang ditandai oleh perkembangan dan kemajuan secara digital membuat generasi milenial lebih menyukai tontonan daripada bacaan. Hal ini tentu harus direspon dengan baik oleh para guru untuk menjadikan interaksi pembelajaran melalui penayangan video seperti yang sudah banyak dicontohkan di google atau youtube sebagai metode pembelajarannya.

Diksi
Setelah memperoleh pemaparan tentang kondisi para widyaiswara yang ada di BPSDMD NTB dari Kepala Badan, Ir Wedha Magma Ardhi, MTP. terutama pada komposisi dan keberadaan Widyaiswara Utama yang dimiliki oleh BPSDMD saat ini, Gubernur menguraikan berbagai hal. Diksinya dalam menggambarkan mereka yang berpengalaman dan memilih jabatan sebagai widyaiswara karena telah menyudahi pekerjaannya sebagai birokrat di lingkungan struktural kerap dijangkiti oleh dua hal, yakni Learning Disability (ketidakmampuan belajar) dan Disability to forget (susah untuk melupakan) tentu bukan semata-mata soal istilah, lebih dari itu Gubernur ingin menggunakan istilah-istilah itu untuk menyampaikan harapan akan pentingnya peningkatan kemampuan diri dari para widyaiswara, yang sebagian besar waktunya berinteraksi dengan para ASN yang sedang mengikuti pendidikan dan latihan.

Diplomasi dan diksi yang dilontarkan oleh Gubernur selalu menarik. Tak hanya gelak tawa yang disebabkan oleh kelucuan yang terselip dalam caranya bertutur, tapi juga pada kandungan pesan "serius"nya yang tak bisa dibantah pada setiap diksi yang diperdengarkan bagi siapapun yang menyimaknya.

Banyak menghabiskan waktu di luar negeri untuk studi serta mendedikasikan dirinya di dunia politik dengan menjadi legislator di Senayan tak hanya membuatnya menjadi kaya dengan pengalaman, melainkan juga membuatnya tumbuh dan berkembang sebagai pribadi dengan keterbukaan pikiran dan gagasan. Idiom-idiom yang digunakannya saat menyampaikan gagasan maupun menerima gagasan pihak lain terpoles dengan kalimat yang amat "well educated". Tak tampak ketergesaannya dalam memproduksi maksud. Mungkin pribadinya seperti itu, mungkin juga karena pengalamannya dalam berinteraksi dengan kelompok mapan baik secara intelektual maupun kultural dalam waktu yang tidak sebentar yang membuatnya seperti itu. Dalam kerapian kalimat-kalimatnya yang tak banyak dipenuhi oleh jargon-jargon, tak jarang hal ini bisa membuat yang mendengar ungkapannya terkecoh. Apakah Gubernur sedang serius atau berkelakar. Keduanya sama pada cara diungkapkan, tenang dan datar. Itu tidak terlihat hanya saat ini, melainkan sejak publik di NTB mengenal DR Zul saat terlihat di panggung debat calon Gubernur NTB tahun 2018.

Learning Organization
Di era dimana keterbukaan sudah menjadi keharusan, maka seorang pemimpin di ranah kepimimpinan apapun haruslah bersyarat itu. Keterbukaan pikiran tak hanya membuka tumbuh dan berkembangnya gagasan, tapi juga bisa menghidupkan partisipasi. Digitalisasi yang mewarnai sendi-sendi kehidupan akan makin produktif menghasilkan kemanfaatan manakala partisipasi makin dioptimalkan. Itu sebabnya kunjungan Gubernur ke berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Lingkup Pemerintah Provinsi NTB dengan mengembangkan suasana yang amat dialogis terasa produktif untuk membuat persoalan di akar rumput birokrasi bisa lebih diungkap dan terungkap. Tak terkecuali ketika menyinggung peran pentingnya BPSDMD Provinsi NTB dengan kualitas sumberdaya widyaiswaranya untuk mengembangkan organisasi belajar (learning organization) bagi para ASN di NTB.

Keterbukaan Gubernur untuk sanggup menerima celotehan maupun keluhan dari para ASN di pemerintahan yang dipimpinnya adalah hal baik dan sekaligus produktif. Tak mengherankan melihat Gubernur tetap tenang dengan senyum khasnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh DR HL Sajim Sastrawan, SH, MH, Widyaiswara Utama di BPSDMD Provinsi NTB saat menyerahkan buku yang ditulisnya, "Kaji Kritis Tugas dan Wewenang Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Pusat". Kata Mamiq Sajim kepada Gubernur, "Selaku Kepala Daerah bapak boleh tidur, tapi sebagai Gubernur bapak tidak boleh tidur."

Apa yang disampaikan oleh Mamiq Sajim tentu bukan kalimat biasa, tapi ketika Gubernur DR Zul dengan hangat dan terbukanya menganggap itu tak ubahnya kalimat biasa yang justru harus diapresiasi pada pesan maksudnya. Maka rasanya tak berlebihan bila seorang kawan aktivis pernah berujar tentangnya, "Berinteraksi dalam percakapan dengan Gubernur Zul memerlukan ketrampilan menyimak tingkat tinggi untuk bisa memahami diksi-diksi beliau. Hanya yang mengerti saja yang tahu dan bisa membedakan saat mana beliau menyampaikan maksud dengan serius atau berkelakar."

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *