Home / SUARA WI / Menjadi ASN Pancasilais Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekedar Retorika || Oleh Nurhikmah, S.I.P.,M.Hum

Menjadi ASN Pancasilais Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekedar Retorika || Oleh Nurhikmah, S.I.P.,M.Hum

MENJADI ASN PANCASILAIS BUTUH AKSI NYATA, BUKAN SEKEDAR RETORIKA

NURHIKMAH, S.I.P.,M.HUM

WIDYAISWARA BPSDMD PROVINSI NTB

 

Juni adalah bulan istimewa bagi Bangsa Indonesia, karena menjadi momen lahirnya Pancasila. Tak hanya itu, tagar #BulanJuniBulannyaBungKarno menjadi viral dan sangat relevan dengan sejarah lahirnya ideologi bangsa. Di Bulan Juni pula lahir 4 tokoh bangsa, yaitu Soekarno, Soeharto, BJ.Habibie, dan Joko Widodo (Presiden RI saat ini). Kira-kira bagaimana sih runutan sejarah lahirnya Pancasila, dan mengapa harus diperingati? Mari kira runut sejarah sejenak. 

Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI, (dalam acara Webinar Memperingati Hari Lahir Pancasila,yang dilaksanakan KemenPANRB, 8 Juni 2020) menjelaskan sejarah lahirnya Pancasila dan kemanfaatannya untuk bangsa Indonesia dan dunia. Pancasila diungkapkan pertama kali oleh Soekarno, dalam pidatonya, 1 Juni 1945. Di tengah pertarungan blok Barat (liberalisme) dan blok Timur (komunisme), Soekarno menawarkan ideologi alternatif yaitu Pancasila.

Menariknya, Hari Lahir Pancasila baru diperingati secara resmi setelah 71 tahun, yaitu dengan terbitnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Beberapa hal yang merangkum sejarah tertulis dalam Keppres tersebut, antara lain bahwa rumusan Pancasila sejak tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan Ir. Soekarno, rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 hingga rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara. Selain itu, Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Republik Indonesia harus diketahui asal usulnya oleh bangsa Indonesia dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi, sehingga kelestarian dan kelanggengan Pancasila senantiasa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Lalu, menjadi manusia Pancasilais harusnya seperti apa? Dengan meyakini Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, agaknya perdebatan tidak produktif yang mengarah pada perpecahan haruslah dihindari. Sebaliknya, kita harus berkontribusi positif untuk kemajuan bangsa. Coba kita lihat kembali visi Indonesia 2020-2024, yaitu Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong.  Ini sejalan dengan tema Hari Lahir Pancasila saat ini, yaitu Pancasila dalam Tindakan, Melalui Gotong Royong Menuju Indonesia Maju.

Makna dari tema ini sangat dalam, bahwa saat ini Indonesia butuh aksi, bukan hanya narasi sejarah, atau sekedar retorika yang didengung-dengungkan. Sejarah adalah fase yang harus kita ketahui untuk membingkai langkah kita mencapai tujuan bersama.  Siapa bilang Pancasila hanya harus didalami dan dipelajari oleh generasi baby boomers atau generasi X? Seharusnya mencintai Pancasila melalui tindakan juga harus dilakukan generasi Y-milenial (1981-1994), generasi Z (1995-2010), dan generasi Alpha (2011-sekarang), tentunya secara kontekstual dan merepresentasikan zaman. Sekarang zamannya audio visual dan kreativitas digital, sehingga pendekatannya pun berbeda. Memberikan pemahaman Pancasila kepada generasi terebut tak akan cukup mengena dengan doktrin dan media tradisional, tapi perlu dengan literasi digital berupa video, kreasi seni, dan sebagainya. [Pembahasan khusus antar generasi ini akan saya tulis lebih lanjut di edisi berikutnya.]

Siapa yang harus berperan untuk membumikan dan mengaktualisasikan Pancasila dalam tindakan? Ya, kita semua. Apalagi Aparatur Sipil Negara, hukumnya wajib. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Pasal 10, menyebutkan bahwa fungsi ASN ada 3, yaitu Pelaksana Kebijakan Publik, Pelayan Publik, serta Perekat dan Pemersatu bangsa. Dari sini, bisa dikatakan, bahwa ASN itu garda terdepan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, sekali lagi bukan hanya retorika, tapi juga dalam tindakan. Apabila kita melihat kembali konsiderans Undang-Undang Nomor 5/2014 tentang ASN, disebutkan bahwa dalam rangka pencapaian cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara, diperlukan ASN yang memiliki integritas, profesional, bebas dari intervensi politik, bersih dari KKN, mampu menyelenggarakan pelayanan publik yang baik, dan menjalankan peran sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebagai seorang widyaiswara generasi Y-milenial, saya selalu menikmati dalam mengajar mata pelatihan Nasionalisme atau Wawasan Kebangsaan. Begitu banyak aset bangsa dan hal menggugah lainnya yang dapat dibahas dengan peserta Pelatihan Dasar CPNS.  Saya menyadari bahwa generasi yang saya fasilitasi ini adalah generasi Y dan Z, yang punya kapasitas dan kosmos berbeda dibanding generasi sebelumnya.  Selain harus dengan bobot materi yang kuat, saya tertantang untuk menyajikan materi dengan sentuhan teknologi. Mereka saya arahkan untuk melihat arah pembangunan ASN di tahun 2024 dalam mencapai World Class Government, mensyaratkan profil ASN yang memiliki Nasionalisme, Integritas, Hospitality, Networking, Teknologi Informasi, Bahasa Asing, dan Entrepreneurship. Sudahkah semua profil ASN ini kita kuasai?

Pada Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (sebelumnya disebut Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV), aktualisasi Pancasila dalam tindakan juga sangat penting. Hal itu saya dapatkan ketika mengikuti Workshop Penyamaan Persepsi Fasilitator. Saya mengambil Agenda Kepemimpinan Pancasila dan Bela Negara. Agenda ini bukan hanya agenda self mastery yang membekali peserta dengan runutan sejarah, tapi juga pemahaman dan pondasi yang kuat, agar dalam melaksanakan kebijakan, harus berpegang pada nilai-nilai Pancasila.  Kalau dalam istilah fasilitator saya saat itu, harus ada “learning product” yang dihasilkan di Agenda Satu, yang akan digodok secara mendalam di Agenda dua dan tiga. Bagi saya ini menarik, karena bagaimana kita akan mengelola orang lain dan kinerja, jika kita tidak mendasarinya dengan pemahaman Pancasila yang baik.

Tantangan mengaktualisasikan Pancasila dalam tindakan menjadi lebih terasa terutama di era saat ini, di kala pandemic Covid-19 melanda Indonesia, bahkan seluruh dunia. Tatanan normal seketika berubah, menjadi tantangan dan habitus baru. Tak terkecuali dengan birokrasi yang dituntut untuk adaptif dan melakukan terobosan dan inovasi. Dr. Tri Widodo W.U,SH.,MA, Deputi Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN RI, menyatakan bahwa pandemi dan revolusi teknologi adalah wind of change bagi sektor publik dan Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia (SANKRI) dalam konteks keindonesiaan. Bisakah kita menerapkan “Home based-Bureacracy?”

Sebagai ASN, layaknya patut bersyukur karena di tengah ketidakstabilan berbagai bidang khususnya ekonomi, kita masih memiliki kepastian gaji dan tunjangan.  Loyalitas untuk melaksanakan fungsi ASN harusnya bukan makin kendor, tapi makin solid dalam melayani masyarakat. Kita patut salut pada solidaritas yang digalang oleh berbagai kalangan di Indonesia, termasuk ASN, menerapkan nilai-nilai gotong royong sebagai inti Pancasila, dalam membantu sesama. Agaknya ini yang dinamakan dengan kesalehan publik, yaitu seimbang antara keimanan dan kesalehan sosial.

Kenormalan baru juga merupakan tantangan juga bagi widyaiswara. Saya teringat apa yang dikatakan Dr. Muhammad Taufiq, DEA, Deputi Kebijakan dan Pengembangan Kompetensi ASN, Lembaga Administrasi Negara, bahwa selain memiliki kesalehan publik, era pandemi ini menjadi momentum bagi ASN, termasuk Widyaiswara dalam mengembangkan kompetensi. Hal baik yang didapatkan pada masa pandemi ini adalah berkembangnya satu kompetensi, yang mau tidak mau dimiliki, yaitu literasi digital. Kondisi physical distancing dan pembatasan sosial yang tidak memungkinkan adanya pertemuan massal, memerlukan kemampuan teknologi untuk tetap terhubung dengan yang lainnya.

Sudah siapkah kita sebagai insan atau ASN Pancasilais berjuang untuk Indonesia? Terkait hal ini, saya setuju banget dengan kata-kata Pandji Pragiwaksono, bahwa Indonesia itu tidak sempurna, tapi layak diperjuangkan. Saya ASN, Saya Pancasila. Kamu?[] (Tulisan ini diolah dari berbagai sumber)

 

Check Also

Learn and Relearn dengan Mengenal Karakter dan Pola Pikir 5 Generasi || Nurhikmah Widyaiswara BPSDMD Provinsi Nusa Tenggara Barat

Learn and Relearn dengan Mengenal Karakter dan Pola Pikir 5 Generasi Nurhikmah Widyaiswara BPSDMD Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *