Home / SUARA WI / Peserta Latsar Harus Menjadi Agen Pembaharu yang “Out of the Box”

Peserta Latsar Harus Menjadi Agen Pembaharu yang “Out of the Box”

Peserta Latsar Harus Menjadi Agen Pembaharu yang “Out of the Box”

Nurhikmah, S.I.P.,M.Hum
Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB

Pada Jumat (1/11), bertempat di Hotel Graha Ayu, Mataram, Seminar Rancangan Aktualisasi Nilai-nilai Dasar PNS telah digelar. Seminar ini menjadi bagian dari agenda Peserta Latsar CPNS Kota Mataram, yang akan melakukan habituasi dalam 30 hari kedepan (off campus). Peserta Latsar Angkatan II yang berjumlah 112 orang ini terbagi dalam 3 kelas. Sesuai Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, mereka ditempa dengan 4 agenda, yaitu Nilai-nilai Bela Negara; Nilai-nilai Dasar PNS; Kedudukan dan Peran PNS; serta kompetensi teknis atau bidang.Dalam seminar rancangan kali ini, saya menjadi coach bagi peserta Kelas A kelompok 4, yang notabene adalah para guru SD dan SMP di Kota Mataram. Sebagai narasumber, yaitu Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Drs.Tri Budiprayitno,M.Si. Sedangkan para mentor adalah atasan langsung (Kepala Sekolah) dari para peserta.
Sebelum memulai pemaparan, Tri Budiprayitno menyampaikan arahan, yang mengingatkan kepada semua peserta Latsar, bahwa mereka adalah “agent of change”, yang harusnya membawa perubahan bagi unit kerja dan profesinya. Untuk itu, para peserta Latsar diharapkan bisa berpikir out of the box, kreatif dan inovatif melalui gagasan-gagasan dalam menyelesaikan isu yang dihadapi.

Sebagai pendidik, berbagai isu dimunculkan oleh para peserta. Ada yang berprofesi sebagai guru kelas di Sekolah Dasar, mengemukakan bahwa sebagian besar anak didik, walaupun sudah di kelas 4-6, masih banyak yang belum lancar dalam Calistung (Membaca, Menulis, dan Berhitung). Hal ini menjadi cukup miris mengingat kemampuan dasar ini harusnya dimiliki di tiap tingkatan, dan seharusnya menjadi syarat dalam kelulusan kenaikan kelas. Beberapa peserta Latsar melihat bahwa minat dan motivasi anak didik untuk belajar masih kurang karena beberapa faktor, antara lain terbatasnya media pembelajaran, kurangnya kreativitas guru dalam menyajikan pelajaran, dan minimnya perhatian orang tua atas perkembangan anaknya. Salah satu persoalan misalnya di sekolah yang sebagian besar anak muridnya berasal dari keluarga nelayan. Anak-anak terkadang memilih ikut melaut daripada harus ke sekolah. Oleh karena itu, para guru ini memakai berbagai metode yang merupakan replikasi dan modifikasi, untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.


Selain itu, di tingkatan SMP, peserta Latsar melihat kemampuan menulis dan literasi masih sangat kurang. Ini ditandai oleh kurangnya minat baca dan menuangkan ide kreatif dalam bentuk tulisan. Berdasarkan data yang diungkap oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip NTB di media, bahwa secara nasional, NTB berada pada peringkat 31, yang artinya minat baca masih sangat rendah. Untuk itulah, para guru ini berusaha menggairahkan minat baca melalui beberapa aktivitas, antara lain menggerakkan Mading Kelas, Pekan Literasi, “Story Telling”, dan Pemilihan Duta Baca.

Isu lainnya adalah dari para peserta Latsar yang berprofesi sebagai Guru Olahraga. Isu pertama yaitu tentang minimnya minat anak didik terhadap cabang olahraga Atletik. Padahal atletik merupakan “mother of sport”, olahraga tertua di dunia. Selain itu, atlet yang mendunia dan mewakili Indonesia berasal dari NTB, seperti Lalu Zohri dan Iswandi, patutlah menjadi inspirasi. Untuk kota Mataram, permasalahan yang kerap muncul adalah minimnya anak didik yang bisa menjadi bibit-bibit atlet dari cabang Atletik tersebut. Gagasan kreatif yang dimunculkan melalui berbagai games dan aktivitas lari dengan memanfaatkan media sosial sebagai kampanye mengakrabkan olahraga ini.

Isu kedua adalah terkait kurangnya minat dan pengetahuan anak milenial dengan permainan tradisional. Gadget dan perkembangan saat ini membuat anak-anak terlena dan kurang bergerak untuk memainkan permainan tradisional, yang menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Peserta Latsar menawarkan permainan Bola Kasti, yang juga terdapat dalam silabus pembelajaran Olahraga, untuk menjadi titik awal mengakrabkan siswa dengan permainan tradisional.

Atas berbagai isu tersebut, Tri Budiprayitno, selaku narasumber, mengapresiasi dan memberikan banyak masukan. Salah satunya, mengingatkan kembali peserta Latsar atas fungsinya sebagai guru. “Bagaimana para peserta didik akan menjadi termotivasi dan tertarik dengan pelajaran di sekolah atau kelas, apabila gurunya tidak mampu menawarkan sesuatu yang menarik”, tantangnya. “Choose your choice, and love your choice”, ujarnya kembali. Bahwa sebagai seorang yang sudah memilih jalan hidup sebagai ASN, maka kita harus all out dalam mencintai pekerjaan kita, sehingga hasil yang maksimal dapat dicapai.

Di setiap sesi Tanya jawab, Tri Budiprayitno juga meminta peserta menuliskan bukti dan hal-hal apa saja yang akan disajikan dalam seminar hasil 30 hari kedepan. Ini menjadi penting sebagai bukti tanggung jawab peserta Latsar dalam melaksanakan habituasi. Selain itu, narasumber juga berharap agar para peserta benar-benar menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, tidak hanya saat aktualisasi 30 hari kedepan, tapi juga seterusnya, menjadi ASN yang berkualitas dan kompeten.[]

 

Check Also

SILATURAHIM KEPALA BPSDMD NTB DENGAN WIDYAISWARA

SILATURAHIM KEPALA BPSDMD NTB DENGAN WIDYAISWARA   Suasana Silaturahim Kepala BPSDMD NTB dengan Para Bapak …

One comment

  1. Para guru memang selalu dituntut untuk senantiasa mengadakan perubahan dalam proses pembelajaran agar jadi lebih menarik sebagai upaya membangkitkan gairah dan minat belajar siswa. Terimakasih para WI BPSDM karena bekal dan pengetahuan yg diberikan selama Latsar kami berusaha terus menerus mangadakan perubahan meski dalam upaya yg kami lakukan masih jauh dari kesempurnaan.

     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *