Home / SUARA WI / PUASA ARAFAH DAN PENGHAYATAN ATAS WAKTU || Catatan kontemplasi Cukup Wibowo

PUASA ARAFAH DAN PENGHAYATAN ATAS WAKTU || Catatan kontemplasi Cukup Wibowo

PUASA ARAFAH DAN PENGHAYATAN ATAS WAKTU
Catatan kontemplasi Cukup Wibowo

Dalam hidup ini begitu banyak kebaikan yang tercurah dan dirasakan oleh seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Wujud kebaikan itu tidak tunggal, melainkan beragam dan sepertinya memang harus disesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuhan setiap makhluk. Tumbuhan seperti halnya hewan memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada berapa milyar jenis tumbuhan dan hewan di muka bumi ini? Rasanya sulit untuk dapat dihitung dengan mata telanjang. Dalam klasifikasi yang dibuat sejenis pun tetap saja perbedaan akan kebutuhan itu muncul dan tak bisa dielakkan. Sebagai misal, yang namanya unggas itu meskipun sejenis, tapi kebutuhannya berbeda. Sebagai contoh ayam dan itik. Meskipun sama sebagai sesama jenis unggas, tapi kebutuhan masing-masingnya berbeda.

Demikian juga dengan manusia. Letak geografis dan alasan kultural dimana mereka berasal menyebabkan kebutuhan-kebutuhannya berbeda. Membahas manusia pada aspek kebutuhannya tentu bukan semata pada soal makan dan minumnya, lebih dari itu adalah pada pemenuhan kebutuhan sosiologis maupun psikologisnya. Itu yang menyebabkan setiap orang bercita rasa beda dengan lainnya. Tak hanya pada cara mendefinisikan kebaikan yang dirasakan, juga pada pengungkapan terima kasihnya pada apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

Kebaikan Tuhan itu seumpama jawaban atas harapan hambaNya, ia hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bersungguh-sungguh menghayati nikmat-nikmatNya. Kontradiksi dengan itu adalah mereka yang tak memiliki kesungguhan dalam menghayati arti nikmat dan dari mana datangnya nikmat tersebut. Mereka mengandaikan bahwa kebaikan itu tak lain adalah keniscayaan yang memang menjadi hak setiap makhluk hidup. Nikmat dan kemudahan itu seolah-olah datang sendiri.

Kita tahu bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya di muka bumi ini adalah pada penghayatan atas apa yang dirasakan, didengar, dan dilihatnya. Tidak hanya yang dirasakannya saat ini, tapi pada apa yang sudah lewat maupun yang akan datang. Kekuatan manusia sesungguhnya ada pada sisi batinnya sebagai ruang penghayatan.

Keberadaan subuh misalnya, tentu tak cuma melengkapi keberadaan waktu, melainkan pesan yang dikandung waktu dengan begitu banyak keistimewaan di dalamnya. Jadi saat adzan subuh berkumandang ada kalimat yang ditambahkan yakni “Asshalaatu khairun minan naum” (Shalat lebih baik daripada tidur). Kalimat ini hanya ada pada panggilan shalat subuh. Sungguh shalat itu lebih baik dari pada tidur karena tidur itu memenuhi panggilan nafsu, sedangkan shalat itu memenuhi panggilan Allah Ta`ala. Dan Sungguh shalat lebih baik dari pada tidur karena tidur itu istirahat tubuh, sedangkan shalat itu istirahat jiwa. Seruan yang agung ini hanya ada di shalat subuh.

Tak hanya oleh akal sehat yang membenarkan kebermanfaatannya, subuh adalah kebaikan dalam rupa energi yang menakjubkan bila dihayati dengan sepenuh perasaan dan sepenuh harapan akan produktivitas yang terurai di dalamnya. Kesegaran tubuh oleh udara yang masih segar tak pelak akan membuat peredaran darah di tubuh makin lancar yang dipicu oleh meningkatnya kadar oksigen di dalam tubuh. Apakah kita sanggup mendustakan nikmat Tuhan yang hebat atas tubuh yang sehat?

Sejatinya, puasa itu bukan soal durasi atas larangan makan dan minum serta menjaga syahwat dan pantangan lainnya sejak subuh hingga magrib. Puasa adalah penghayatan total pada kesanggupan kita untuk merasakan setiap detil dari apa yang kita lakukan. Tubuh yang berpuasa adalah tubuh yang bersedia untuk menjalani setiap kebaikan dan menjauhi setiap keburukan sebagai larangan puasa.

Penghayatan atas subuh sebagai awal waktu mulai puasa dalam sehari, menjadikan kita makin mengerti akan kemunculan energi positif dalam diri kita. Sebuah energi yang dapat tercipta saat kita bangun dan menghirup udara pagi dengan sepenuhnya. Ritual pagi menjelang subuh dalam proses puasa yang kita jalani adalah jawaban nyata kenapa energi positif yang bisa membuat mimik berseri dan semangat muncul secara alami. Tak hanya itu, para pakar juga menjelaskan bagaimana seseorang bisa memiliki mood bagus saat memproduksi karya-karyanya. Tak lain karena hormon serotonim adalah unsur penting dalam penciptaan suasana hati dan juga keseimbangan mental dalam tubuh. Hormon itu terbentuk dengan sangat bagusnya saat kita bangun pagi.

Selamat menjalankan Puasa Sunnah Arafah bagi yang menjalankannya hari ini. Sebagaimana yang disabdakan Baginda Nabi Muhammad SAW, "Barangsiapa berpuasa pada hari Arafah, maka ia diampuni dosa-dosanya setahun yang di depannya dan setahun setelahnya." (HR. Ibnu Majah; shahih).

Puasa tak hanya melatih kita untuk makin memiliki penghayatan dan aura diri yang meningkat, tapi juga bisa memberikan pengaruh positif bagi kehidupan di sekeliling kita. Wallauhualam bissawab.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *