Home / SUARA WI / SANG PEREKAYASA || Catatan Cukup Wibowo

SANG PEREKAYASA || Catatan Cukup Wibowo

SANG PEREKAYASA
Catatan Cukup Wibowo

Kemenangan atau kekalahan itu sesungguhnya bisa diramal sejak awal. Itu sebabnya para pengamat sering membangun dan menciptakan asumsi yang membuat para penyimak terpersuasi. Tapi dengan optimisme yang membara, yang semula dalam posisi underdog justru bisa mencengangkan dengan permainan yang membabi buta  dan sanggup membalik fakta dan kalkulasi teoritik para pengamat untuk bisa memenangkan pertandingan. Lantas siapa yang harus disebut hebat bila yang underdog bisa tampil jauh lebih mumpuni dari yang diunggulkan? Perekayasa yang ada di balik layarlah yang patut diacungi jempol! Dengan kemampuannya, dia bisa mengubah keadaan. Dengan taktiknya dia bahkan bisa membuat pemain sendiri tak tahu sampai kemudian ketika pertandingan sudah usai barulah mengerti mengerti atas taktik yang dimainkannya tadi.

Siapa sesungguhnya perekayasa itu? Bisa siapa saja tanpa terkecuali. Yang jelas dia memiliki otoritas atas dirinya. Perekayasa itu tak lain adalah pikiran yang senantiasa bekerja untuk perubahan, berdedikasi untuk masa depan. Ia ada dalam segala urusan. Perekayasa itu tahu apa yang sebaiknya dilakukan bilapun yang dimiliki adalah bahan-bahan yang cenderung kadaluwarsa (expired). Dengan bahan apapun dia bisa menyulap keadaan karena tubuh perekayasa tak ubahnya komposisi lengkap yang berisi integritas, komitmen, inovasi dan sekaligus kreativitas.

Selaksa Manusia Sempurna (The Perfect Man) dalam fiksi-fiksi modern yang bisa mengatasi hampir seluruh kesulitan, maka sosok Perekayasa adalah setara dengan itu, yang di dalam dirinya terdapat tambahan paduan yang khas ialah kesabaran dan ketekunan tanpa keluhan. Bayangkan saja, dengan pemain yang hampir merata untuk di sebut The Expired Mind, sang Perekayasa justru tak bergeming untuk meyakini satu pola yang bisa membuat keadaan berubah sesuai harapan. "I know what I can do," kalimatnya selalu begitu. Optimis dan tak pernah bisa diciderai oleh pesimisme dan gampangnya otak dijajah oleh keputus asaan. "Life is easy cause God makes it easy for us, so why must complain?" Inilah kalimat siasat karena selalu melibatkan Tuhan dalam hal apa saja. Tak ada yang sulit karena Tuhan akan selalu memudahkan yang sulit.

Maka seluruh potensi sebagai cikal bakal kemenangan tak harus berbahan hebat. Pasukan itu karena Panglimanya. Dan Panglima itu karena dipercaya pasukannya. Whether The Excellent Mind or The Expired Mind tak masalah baginya. Sendi-sendi kelebihan dan kelemahan itu selalu ada. Pikiran akan bergerak hebat dan menunjukkan ketrengginasannya bila disentuh titik yang bisa membuatnya bersemangat. Sebaliknya, pikiran akan layu bila tak dikoneksikan dengan titik utama yang bernama semangat, yang ada dalam dirinya.

Dalam obrolan lepas, Perekayasa itu pernah menyingkap apa yang menjadi rahasia suksesnya kepada saya, yang ingin saya bagi pada Anda semua. "Kuncinya di cara memainkan Zona Nyaman (Comfort Zone). Saya memainkan itu untuk membuat kemalasan atau skeptisme dengan segera bisa berubah menjadi kegairahan dan optimisme sekaligus," ujarnya ringan sambil meremas pundak saya yang menegang sejak tadi. Ini benar-benar memukau pikiran saya untuk setuju. Zona nyaman adalah impian siapa saja. Bila dia diganggu, maka bisa membuat seseorang yang semula tak mau tahu bisa mengamuk menyerupai "Banteng Ketaton", istilah yang diungkapkan Ronggo Lawe, maharesi yang hidup di zaman keemasan Kerajaan Majapahit.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *