Home / SUARA WI / Siapa Menanam Pasti Akan Menuai || Oleh PRASETYA UTAMA

Siapa Menanam Pasti Akan Menuai || Oleh PRASETYA UTAMA

Siapa Menanam Pasti Akan Menuai

PRASETYA UTAMA (Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB)

Ada kisah seorang sahabat Rasulullah SAW  bernama Sya’ban RA. Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat-sahabat yang lain. Namun, ada suatu kebiasaan yang unik dari Sya’ban yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai, beliau selalu beri’tikaf dipojok depan masjid. Beliau mengambil posisi di pojok bukan supaya mudah sandaran atau mau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah. Kebiasaan yang unik ini sudah dipahami dan diketahui oleh sahabat lain bahkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Sya’ban ra selalu berada di posisi tersebut termasuk saat shalat berjamaah.

Pada suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rasulullah SAW mendapati bahwa Sya’ban ra tidak berada di posisinya seperti biasa. Rasulullah SAW pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban RA. Shalat subuh pun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun beliau belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasulullah SAW memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah tanpa Syaban ra.

Seusai shalat subuh berjamaah, Rasul SAW bertanya kepada jamaah, Apa ada diantara kalian yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA? Ternyata tak ada seorangpun yang menjawab. Rasul SAW bertanya lagi, apa ada diantara kalian yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA? Akhirnya, kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA. Rasulullah SAW yang kuatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul SAW dan jamaah sebelum sampai ke rumah Sya’ban. Rombongan Rasulullah SAW sampai ke sana saat waktu afdol untuk shalat dhuha (kira-kira 2-3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut Rasulullah SAW mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

Benarkah ini rumah Sya’ban? Rasul SAW bertanya.Ya benar, saya istrinya, jawab wanita tersebut.

Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:

“Beliau telah meninggal dunia tadi pagi”

Innalilahi wa inna ilaihirojiun…Subhanallah, ternyata inilah satu-satunya penyebab dia tidak shalat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.

Kemudian istri Sya’ban  bertanya kepada Rasul SAW.

“Ya Rasulullah, ada sesuatu yang masih menjadi pertanyaan bagi kami semua,  yaitu menjelang kematiannya ia berteriak 3 (tiga) kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul SAW.

Di masing-masing teriakannya ia berucap 3 (tiga) kalimat yaitu :

“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”

“Aduuuh kenapa tidak yang baru… ”

“Aduuuh kenapa tidak semua…”

Dari kisah tersebut dapat diambil hikmah dan pelajaran sebagai berikut :

Pertama, dalam pandangannya yang tajam itu ia melihat semua perbuatannya ketika ia pulang-pergi dari Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu. Masih ingatkan, rombongan Nabi ketika menuju rumah Sya’ban dengan perjalanan jalan kaki sekitar 2-3 jam, tentu bukanlah jarak yang dekat meskipun dengan naik unta sekalipun. Dalam penglihatan yang tajam itu pula Sya’ban diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkah nya ke Masjid dan Ia melihat surga sebagai ganjarannya. Saat melihat itu ia berucap: “Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…” Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.

Kedua, dalam adegan dimana semua perbuatan kita diperlihatkan. Sya’ban diperlihatkan ganjaran dan perbuatannya ketika melihat seseorang yang terbaring kedinginan, ketika dalam perjalanan menuju masjid, kemudian Ia membuka baju yang paling luar dan memberikan pakaian terluar itu kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah. Orang itu pun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan melakukan shalat berjamaah. Dalam adegan dimana semua perbuatan dan ganjaran kita diperlihatkan. Sya’ban pun kemudian melihat ganjaran berupa surga yang sebagai balasan memakaikan baju luar jeleknya kepada orang tersebut. Itulah mengapa Syaban berteriak “Aduh, kenapa tidak yang baru… ” Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju jelek saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Ketiga, Selanjutnya kalimat yang ketiga. “Aduuuh kenapa tidak semua…”. Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat ia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Ketika ia baru saja hendak memulai sarapan, muncullah seorang pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut, Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi 2 (dua) roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun ia bagi dua. Kemudian mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban dengan surga yang indah. Itulah mengapa ia berteriak “Aduh, kenapa tidak semua…” Sya’ban kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti dan susu itu kepada pengemis tersebut, tentulah dia akan mendapat surga yang jauh lebih indah.

Kisah di atas sejalan dengan apa yang dikandung dalam surat Al Munafiqun ayat 10, Allah menceritakan keinginan orang yang sudah mati, seperti dalam ayat berikut ini :

" Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? ".

Istilah sedekah  di atas artinya tidak hanya sebatas membagikan harta benda, materi, finansial sehingga bisa dimonopoli kalangan berada. Dalam bahasa lain, sedekah adalah upaya berbagi kebaikan dengan mengoptimalkan kemampuan diri agar seseorang merasa lega telah berbagi kebahagiaan

Dalam ayat tersebut kita renungkan ada pertanyaan sebagai berikut: mengapa orang-orang itu memilih sedekah? Bukan melakukan ibadah haji, umroh setiap tahun, atau puasa setiap hari, berdzikir, membaca Al Qur’an, shalat tahajud atau ibadah-ibadah lainnya? Ulama Tafsir mengatakan, hal ini dikarenakan besarnya pahala sedekah yang mereka lihat dan mereka rasakan, sehingga mereka ingin hidup kembali dan  bersedekah sebanyak-banyaknya.

Kita seringkali bertanya, apa kontribusi (sedekah) anda berikan misalnya sebagai seorang ASN? Apa yang telah anda berikan kepada masyarakat ? Lalu bagaimana jika pertanyaan itu kita balik saat ini, kita arahkan seluruh jari mengarah ke diri kita sendiri.   Apa yang sudah kita berikan kontribusi untuk  masyarakat? Sebagai seorang ASN  kontribusi (sedekah) apa yang bisa kita berikan supaya bernilai kebaikan atau sedekah banyak hal yang bisa kita lakukan, misalnya berbagi kontribusi (sedekah) ilmu/pengetahuan, keterampilan, jabatan atau kedudukan kita, bisa juga tenaga atau pikiran yang sudah kita miliki untuk diberikan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya (secara profesional dan amanah). Sebagaimana mana dalam hadis berikut ini :

 “…Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Hingga akhirnya kita mengambil kesimpulan, bukan seberapa penting kita berada di mana, tetapi sebanyak apa kontribusi yang telah kita lakukan, yang telah kita persembahkan. Lalu sudah sampai manakah kontribusi kita saat ini?

Jadikan kehidupan kita menjadi lebih berwarna, dengan banyak memberikan kebermanfaatan untuk sekeliling kita dengan bersedekah. Hidup ini singkat, jangan dipersingkat lagi dengan hal-hal yang memberatkan hidup. Mumpung masih ada waktu, lihatlah apa yang sudah kita lakukan dalam hidup ini.  Barangsiapa menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikannya. Sebaliknya, barangsiapa menanam keburukan, maka ia akan menuai hasil dari keburukannya pula.

Semoga dengan kisah tersebut dapat menambah pencerahan kita untuk selalu taat kepada Allah dan membiasakan  bersedekah, berkontribusi dan melakukan kebaikan di manapun kita bekerja dan beribadah. Wallahua’lam Bisshawab.

 

One comment

  1. Sangat inspiratif…pak Dr….

     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *