Home / SUARA WI / SOLILOKUI || Catatan Cukup Wibowo

SOLILOKUI || Catatan Cukup Wibowo

SOLILOKUI
Catatan Cukup Wibowo

 

Apakah sebuah kesaksian masih diperlukan bila dirimu yang "tak pernah" senyatanya boleh bertingkah melebihi dari mereka yang "sudah pernah"? Ada yang bilang, kalau dirimu itu malah terlihat lebih keras dan lebih memaksa orang lain untuk begini dan begitu dengan rujukan yang anehnya tak jelas berdasarkan apa kecuali satu kata yang selalu terulang: Pokoknya! Keadilan macam apa bila yang tak sama mendapat perlakuan sama untuk perbedaan yang jelas pastinya? Sementara yang pernah saja lebih memilih diam dan mengalah meskipun mendapatkan penjelasan yang tak sempurna bahkan keliru atas apa yang sudah dialaminya. Kau tahu sebabnya? Mereka berucap begini, "Mengalah itu cara terbaik untuk menghindari rusaknya keadaan dan kebersamaan yang disebabkan oleh persengketaan yang hanya menciptakan kesia-siaan belaka." Apa kata-kata mereka itu masih saja kau anggap sebagai kalimat biasa yang tak mengandung nasehat kebaikan untuk bisa dicontoh?

Kita di antara perbedaan yang makin tajam dan tak bertemu. Dirimu asyik dengan kebenaran pikiranmu sendiri dengan cara yang selalu sinis dalam mengutarakan pandangan. Sementara orang lain tak pernah kau anggap benar karena kebenaran hanya ada di benakmu saja. Kita tak akan pernah mendapatkan rumusan kesepakatan karena dirimu selalu membawa kesimpulan bahkan sebelum percakapan dimulai. Kalau sudah begitu, lantas apa yang menjadi harapan dari sebuah pertemuan? Seperti kehendak yang mengalir di muaranya sendiri-sendiri, tak akan pernah ada keindahan dari sebuah kebersamaan yang tak bersedia untuk saling bertemu di kebaikan yang sama.

Seluruh alasan sepertinya hendak engkau masukkan di persepsi tunggal yang bernama tafsir politik satu definisi. Politik bukan lagi sebuah ejawantah dari "The Art of Possible" yang membuat segala kemungkinan bisa dipakai untuk menghasilkan peluang. Dan oleh alasan untuk memperebutkan peluang itu maka seni diperlukan untuk membuat permainan bisa berlangsung cantik dan memukau bagi yang menyaksikannya. Apakah politik harus disebut keji dan kotor hanya karena mereka yang bermain di pusaran politik mempertontonkan cara tak elok dengan saling sikat dan sikut untuk memenangkan peluang demi atas nama kepentingan diri dan kelompoknya? Bila harus diumpamakan, politik dan pemain politiknya itu tak berbeda dengan sepak bola dan pemain sepak bolanya. Apakah karena ada pemain sepak bola yang nakal dan curang kemudian kita simpulkan sepak bola adalah permainan yang kotor karena penuh dengan kenakalan dan kecurangan? Tentu tidak begitu. Yang buruk itu pemainnya, bukan gelanggangnya. Tapi kenapa dirimu selalu memilih diksi berdasarkan kamus di pikiranmu sendiri dengan menyebut politik itu tak ubahnya kepentingan yang saling berhadapan antara kubu benar dan salah, kubu hitam dan putih. Dan dirimu dengan seenaknya membuat definisi sendiri dan menarik semua maksud dalam genggaman sesuka-sukanya, tak ubahnya lagu The Winner Takes It All, hanya pemenang yang boleh mengambil semuanya. Dan dirimu dengan lagak seorang pemenang, mengambil semuanya tanpa tersisa.

Kini makin jelas arti pelajaran bersabar setelah bertemu dan berhadapan dengan sosok sepertimu, yang selalu mendebat hal-hal yang bahkan sudah benar sesuai faktanya. Tak ubahnya  snobis yang ingin menang di segala maksud meskipun lemah dari aspek apapun, baik itu argumentasi maupun bangunan akal sehat dari sebuah pemikiran. Bahkan mereka yang mengambil posisi sebagai oposisi pun tak menunjukkan ciri keangkuhan untuk menyebut dirinya selalu benar dengan mempercayai mitos sebagai rumusan perubahan. Dirimu bukan lagi sebuah pengandaian atas kekerasan hati dalam berpendapat, lebih dari maksud itu adalah sosok dengan kekakuan yang ingin menang sendiri. Dan itu membuat tak hanya kemacetan, tapi bahkan juga bisa menghilangkan produktivitas pemikiran yang justru diperlukan untuk membenahi keadaan.

Begitulah yang ingin kusampaikan dalam tulisan ini. Tak ubahnya solilokui, yang menggambarkan sebuah percakapan yang berkecamuk di pikiran sendiri. Untuk menghasilkan kebaikan yang bermanfaat, perlu dibangun keselarasan dari berbagai ragam perbedaan yang sudah ada dan terlanjur meniscaya. Tradisi bertindak atas dasar kepentingan sesaat dengan cara menang-menangan tak hanya membuat masa depan menjadi buruk, lebih dari itu ia akan kehilangan orientasi kebaikannya.

Catatan:
Solilokui = berbicara pada diri sendiri setelah melalui perenungan atau kontemplasi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *