Home / SUARA WI / TENTANG MENULIS KREATIF || Catatan ringan Cukup Wibowo

TENTANG MENULIS KREATIF || Catatan ringan Cukup Wibowo

TENTANG MENULIS KREATIF
Catatan ringan Cukup Wibowo

Selalu saja pertanyaan klasik itu muncul dan berulang, bagaimana agar bisa menulis? Kenapa hal-hal yang tadinya mudah di benak untuk saya ungkapkan ternyata sulit saat akan saya tuangkan jadi tulisan? Saya harus memulai dari mana? Menghadapi serangkaian pertanyaan seperti di atas saya justru menjawab dengan ganti bertanya; bagaimana caranya agar bisa berbicara? Apakah berbicara itu selalu mudah dalam situasi yang berbeda?

Pada dasarnya, masing-masing dari keduanya bersebab dari kata. Pada kata-kata yang tersusun menjadi kalimat, paragraf, dan teks yang lebih panjang itulah seorang penutur lisan atau tulisan berupaya untuk bisa menjelaskan maksud yang dikandung dalam pikirannya. Ada yang memilih pengungkapan maksudnya melalui telaah atau kajian pemikiran. Buah dari pekerjaan penulisan seperti ini tulisan ilmiah. Kaidahnya sudah ada. Sistematikanya juga begitu, hampir semua penulis di jalur ini harus menggunakan sistematika yang kurang lebih sama. Produk dari tulisan ini secara khusus disebut karya tulis ilmiah. Dalam praktek penulisannya agar lebih enak dibaca maka orang menyebutnya sebagai tulisan ilmiah populer, dimana sistematikanya tak lagi kaku (rigid) untuk mengikuti aturan atau pakem sebagaimana karya tulis ilmiah.

Berbeda halnya dengan tulisan kreatif. Tulisan ini adalah jenis tulisan yang lebih banyak kita jumpai, kita baca, dan bahkan kita lakukan entah itu di facebook, whatsapp, atau di media sosial lainnya. Tanpa kita sadari sesungguhnya apa yang kita lakukan dengan bantuan telpon pintar kita (smart phone) adalah memproduksi tulisan kreatif. Bila tulisan-tulisan itu kita rapikan agar terlihat ujung pangkal gagasannya, maka akan menjadi tulisan kreatif yang utuh.

Sebagaimana kita saksikan seseorang sedang berbicara, tak jarang tuturannya berkembang kesana kemari. Melebar, liar, dan bahkan keluar dari topiknyang dibicarakannya. Tulisan kreatif itu bisa saja seperti itu. Tak jarang penulis kreatif dalam menjelaskan pikiran maupun gagasannya tidak langsung menuju pada maksudnya (to the point).

Sebagaimana tanya jawab yang saya gunakan sebagai pembukaan (prolog) dalam tulisan ini tentang bagaimana cara mudah dalam menulis, maka asumsi yang bisa kita gunakan bahwa setiap orang itu sesungguhnya bisa menulis karena setiap orang tak lagi diragukan untuk bisa berbicara. Antara menulis dan berbicara persoalannya hanyalah pada ketrampilan dalam mengutarakan pikiran.

Bila dalam berbicara kita kenal adanya kegugupan (nervous), maka dalam kegiatan menulis ada istilah yang dikenal sebagai  writer's block. Istilah writer’s block pertama kali didefinisikan oleh psikoanalisis Edmund Bergler sebagai a neurotic inhibiton of productivity in creative writers atau kemacetan syaraf produktif dalam diri para penulis kreatif.

Kembali pada soal ketrampilan mengutarakan. Tak akan pernah ada sebuah ketrampilan yang bisa dimiliki oleh seseorang selain dengan berlatih dan berlatih. Bila seorang pemain bola hebat itu disebabkan karena latihannya yang hebat, maka akan berlaku juga bagi siapapun yang ingin menjadi penulis yang trampil. Jika tidak dimulai dari sekarang apakah kita yakin masih akan memiliki kepastian waktu untuk bisa melakukannya di kemudian waktu?

 

Check Also

TOILET DAN CARA MEWUJUDKAN KOMITMEN || Catatan ringan Cukup Wibowo

TOILET DAN CARA MEWUJUDKAN KOMITMEN Catatan ringan Cukup Wibowo Perubahan itu membutuhkan prakarsa. Ukurannya bukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *