Home / SUARA WI / URGENSI PERAN WIDYAISWARA DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI BAGI APARATUR SIPIL NEGARA || Oleh : HAELI., S.E., M.Ak (Widyaiswara)

URGENSI PERAN WIDYAISWARA DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI BAGI APARATUR SIPIL NEGARA || Oleh : HAELI., S.E., M.Ak (Widyaiswara)

URGENSI PERAN WIDYAISWARA DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI
BAGI APARATUR SIPIL NEGARA
Oleh :


HAELI., S.E., M.Ak (Widyaiswara)

Latar Belakang

Guru bangsa, status ini tidaklah berlebihan untuk disematkan pada Aparatur Sipil Negara yang memilih jalur pengabdian pada Jabatan fungsional Wisyaisawara. Karena sejatinya widyaisawara adalah gurunya para Aparatur Sipil Negara yang merupakan mesin penggerak birokrasi di Indonesia. Menjadi Widyaiswara tentu merupakan sebuah pilihan karir yang telah dipikirkan dengan cukup matang didasarkan pada minat, kemampuan serta passion yang sangat kuat. Seorang widyaiswara bukanlah guru biasa, karena yang dihadapi adalah peserta yang sudah bekerja di lingkungan birokrasi, sehingga dalam proses pembelajaranpun metode yang digunakan adalah metode andragogy (pembelajaran orang dewasa). Menjadi seorang widyaiswara tentu sudah siap dengan segala tantangan yang harus dihadapi, terutama terhadap tugas yang harus dilaksanakan.

A. Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara
Paradigma baru dalam pengelolaan pengembangan aparatur menuntut adanya pengembangan kompetensi, sesuai dengan amanat Undang-undang nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Pengembangan kompetensi ini dilakukan melalui berbagai pelatihan dimana peran guru bangsa sangat menentukan keberhasilan kegiatan program pengembangan kompetensi tersebut. Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah asset yang dituntut dan harus dikembangkan kompentensinya dalam menjalankan tugas dan fungsi di instansi masing-masing.
Setidaknya terdapat tiga kompetensi kunci yang wajib dimiliki oleh pegawai ASN, yakni kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kompetensi sosial kultural. Kompetensi teknis diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis. Sedangkan kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman kepemimpinan. Sementara kompetensi sosial kultural diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan. Upaya pengembangan kompetensi pegawai ASN dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus, dan penataran yang diselenggarakan oleh lembaga kediklatan tingkat Provinsi maupun Nasional sehingga dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam pengangkatan jabatan dan pengembangan karier.
Hal paling utama sesungguhnya adalah output program pengembangan kompetensi mampu menghasilkan perubahan sikap dan perilaku, selain peningkatan pengetahuan dan keahlian sesuai dengan bidangnya sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi ASN, agar menjadi ASN yang profesional dan berdaya saing dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bersih dan melayani.

B. Peran Widyaiswara dalam Pengembangan Kompetensi
Amanat Permenpan RB Nomor 22 tahun 2014 tentang jabatan Fungsional Widyaiswara dan angka kreditnya bahwa Widyaiswara adalah suatu jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok mendidik, mengajar, melatih dan melakukan evaluasi dan pengembangan diklat pada lembaga diklat pemerintah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Widyaiswara memiliki peran yang sangat strategis dalam keberhasilan penyelenggaraan pelatihan. Widyaiswara dituntut professional dalam mengelola kelas, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga seorang widyaiswara dapat berperan sebagai fasilitator, motivator, insporator, inovator, dinamisator dan role models dalam bidang pendidikan dan pelatihan klasikal maupun non klasikal. Agar terjamin profesionalime maka Widyaiswara harus kompeten dalam bidangnya. Tantangannya adalah masih sering dijumpai keluhan tentang kinerja Widyaiswara antara lain tentang masih terbatas kegiatannya hanya pada kegiatan dikjartih, pemenuhan pengembangan unsur kompetensi dan dukungan pengembangan kapasitas personal Widyaiswara belum optimal, unsur pengembangan profesi widyaiswara belum maksimal dan yang paling menyedihkan adanya anggapan bahwa jabatan widyaiswara untuk memperpanjang masa pensiun.
Kualitas Widyaiswara sangat menentukan kualitas pembelajaran, kualitas pembelajaran menentukan kualitas ASN. Era 4.0 merupakan tantangan bagi Widyaiswara untuk lebih mengasah diri dalam menjalankan tupoksinya secara mandiri dan profesional. Widyaiswara harus mampu mengudate metode yang digunakan, bahan ajar, bahan tayang dan kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi secara mandiri. Untuk menjawab ini maka sharing knowledge antar Widyaiswara sangat perlu dilakukan dengan membangun jejaring sebagai sarana berbagi ilmu berbagai pengalaman dan permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi dan profesi Widyaiswara secara mandiri baik di daerah maupun secara nasional.

C. Pembahasan
Memilih jabatan fungsional widyaiswara tentunya sudah siap dengan segala tantangan, widyaiswara berperan sangat penting dan strategis dalam keberhasilan program pengembangan kompetensi ASN terutama dalam menghadapi paradigma baru birokrasi dimana ASN adalah asset negara yang harus terus dikembangkan potensinya.
Peran widyaiswara dituntut semakin professional dalam menjalankan tugasnya hal ini sesuai dengan visi pemerintah untuk menciptakan birokrasi berkelas dunia. Ini tidaklah mudah karena yang dihadapi adalah birokrasi Indonesia dengan ciri-ciri yang sangat kental yaitu careless, mengerjakan yang rutin, silo/ego sectoral dan tertutup. Belum lagi catatan buruk tentang perjalanan birokrasi yaitu ease of doing business rangking 91 dari 189 negara, innovation index rangkin 87 dari 143 negara dan corruption perception index peringkat 90 dari 176 (tahun 2018).
ASN menjadi faktor kunci dalam pembangunan daya saing bangsa, peran Widyaiswra sangat strategis dalam program pengembangan kompetensi ASN. Widyaisawara yang professional dan kompeten dalam tugasnya merupakan penjamin mutu bagi lembaga kediklatan karena kualitas Widyaiswara sangat menentukan kualitas pembelajaran, kualitas pembelajaran menentukan kualitas ASN sesuai dengan tuntutan era industry 4.0.
UU ASN no 5/2014 mengamanatkan bahwa harus dilakukan pengambangan kompetensi asn ini diperkuat dengan PP Nomor 11/2017 bahwa hak pengembangan kompetensi ASN adalah 20 JP pertahun maka salah satu bentuk pengembangan kompetensi adalah melalui pelatihan dan tugas pokok Widyaiswara adalah melaksanakan DIKJARTIH kepada ASN melalui program-program pelatihan. Peserta pelatihan berhak mendapatkan pengajar terbaik dan WI dituntut secara kompetensi menjadi terbaik dibidangnya.

D. Kesimpulan
ASN sebagai asset dan factor kunci dalam menjalankan birokrasi berhak mendapatkan hak pengembangan kompetensi dengan tenaga pengajar/widyaiswara terbaik dibidangnya. Sebagai guru bangsa Widyaiswara dituntut professional dalam mengelola kelas, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga seorang widyaiswara dapat berperan sebagai fasilitator, motivator, insporator, inovator, dinamisator dan role models, mengutip kata bijak Dr. Ajriani Munte Salak, M.Ed satu tindakan lebih baik dari 1000 buku/modul. Widyaiswara harus mampu mengudate serta sharing knowledge dengan membangun jejaring sebagai sarana berbagi ilmu berbagai pengalaman dan permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi dan profesi Widyaiswara secara mandiri baik di daerah maupun secara nasional. Mengakhiri tulisan ini dengan kutipan kalimat bijak “A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron.” ~Horace Mann artinya ”Seorang guru yang berusaha mengajarkan tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin”. Semoga bermanfaat **

[sdm_download id="9651" fancy="0"]

 

Check Also

TUBUH SEUMPAMA MATAHARI

#SuaraWi TUBUH SEUMPAMA MATAHARI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *